"Enak ya lega, kaki mama gak sakit karena gak perlu ditekuk," begitu komentar ibu saya yang pertama kali menumpang mobil ini.
Di kursi bagian tengah, seperti di kursi sopir juga telah mengadopsi Electric Seat Adjustment.
Sehingga saya tidak perlu turut membantu ibu untuk menyesuaikan posisi duduknya yang selama ini saya lakukan di mobil yang saya punya.
Cukup beliau tekan tombol pengaturan sesuai kenyamanannya.
Ketika sampai di rumah sakit pun, kenyamanan tetap berlanjut, dengan fitur AutoComfort Sliding Door mudah bagi saya maupun penumpang di tengah untuk menggeser pintu.
Buka-tutup pintu bagasi untuk mengambil kursi roda pun juga mudah.
Di luar dari itu semua, sebagai mobil dengan genre mobil keluarga, Wuling Darion EV ini bisa diandalkan untuk perjalanan yang cukup jauh.
Sebab, Darion EV bisa berjalan hingga 540 km, klaim itu tak lepas dari kapasitas baterai besar yang mencapai 69,2 kWh.
Klaim ini bisa mendekati kebenaran, sesaat setelah memegang Darion yang saat itu kapasitas baterai terisi 30 persen, lalu segera saya charge ke SPKLU dengan jumlah kwh sekitar 40.
Lantas baterai terisi sekitar 86 persen dengan kilometer yang bisa ditempuh pada dashboard terlihat 465 kilometer.
Selama 5 hari penggunaan sejauh sekitar 250 kilometer keliling posisi kapasitas baterai tinggal 41 persen dengan jarak yang masih tersisa di angka 221 km.
Artinya selama pemakaian dengan asumsi baterai terisi 86 persen (59,512 kwh) ke 41 persen (28,372 kwh) berarti untuk menempuh jarak 250 km diperlukan 31,14 kwh atau 8 km per kwh.
Angka itu saya dapat dengan penggunaan kombinasi dimana dipakai untuk dalam kota dengan kondisi kemacetan dan jalur tol menuju BSD yang cukup lenggang.
Cukup murah dengan jarak tempuh 8 km dengan harga 1 kwh sekitar Rp 2.600 rupiah di SPKLU.