Bahkan, beberapa tim sudah menerapkan hal itu untuk pemilihan pembalap, meskipun beberapa masih tampak 'diakali'.
Seperti David Alonso, juara dunia Moto3 tahun 2024 ini sebenarnya lahir dan dibesarkan di Spanyol.
Namun saat tampil di MotoGP, agar terlihat berbeda Alonso menggunakan paspor Kolombia yang diwariskan oleh ibunya.
Baca Juga: Selebrasi Hafizh Syahrin di ARRC Nyaris Jadi Tragedi, Race Director Turun Tangan
Begitupun dengan Veda Ega Pratama, diluar bakatnya yang luar biasa dan penampilan apik di tiga seri pembuka, ada faktor eksternal yang ikut membantu Veda.
Besarnya industri motor di dalam negeri dan tingginya minat masyarakat akan balap MotoGP menjadi nilai lebih tambahan untuk pembalap asal Gunung Kidul, Yogyakarta ini.
Bahkan, Simon Patterson seorang jurnalis senior MotoGP juga merasakan fenomena ini.
Simon belum lama ini memposting kalau untuk pertamakalinya postingan dia di sosial media tentang balap motor bisa mendapatkan 10.000 like.
Tentu saja, postingan yang dibuat itu berisi foto dan informasi tentang Veda Ega.
Ini menunjukan betapa menjualnya pembalap Indonesia yang bisa menjadi nilai tawar lebih untuk tampil di kelas tertinggi.
Semoga saja dengan kondisi seperti ini, dalam waktu dekat kita bisa lihat adanya pembalap Indonesia yang berlaga dan kompetitif di kelas Utama!