Hadapi Tantangan Keras, Bos Toyota Ungkap Kultur Pelayanan Bukan Hal Yang Mudah Direplikasi

Iday - Jumat, 17 April 2026 | 09:12 WIB

Jap Ernando Demily, Vice President Director PT Toyota-Astra Motor

GridOto.com – Awal April lalu Toyota membuat acara silaturahmi dengan beberapa pimpinan media otomotif.

Benar-benar sebuah pertemuan akrab karena tak membahas persoalan secara khusus. PT Toyota-Astra Motor hanya menunjukkan, jika saat ini posisi Vice President Director resmi bergulir dari Henry Tanoto ke Jap Ernando Demily yang sebelumnya menjabat Marketing Director.

Tak ada wawancara khusus bahkan kami sampai luput memotret sosoknya. Karena tiba-tiba saja sekitar jam 13.00 atau di akhir pertemuan keduanya sudah bergegas meninggalkan tempat. “Lanjut meeting di Menara Astra,” ujar Ernando singkat.

Namun melihat saat ini merupakan situasi ekonomi dan kompetisi di Indonesia yang menantang, GridOto berupaya mengorek lebih lanjut tentang langkah apa yang akan dilakukan oleh Toyota. 

Sempat mencuat info kalau Toyota tak akan melakukan langkah ekstrem mengingat saat ini Ernando akan memimpin tim yang sama.

Namun kami tahu persis, pria dengan segudang pengalaman di brand lain ini selalu punya insting tajam, pandangan komprehensif dan menariknya, tak segan berbagi informasi. Pertanyaan pun dimulai dari posisinya saat ini di dalam peta industri otomotif yang tak 'seberuntung' pendahulu-pendahulunya.

Maklum, Ernando berada di masa-masa kondisi market penuh tekanan. Bukan lagi blue ocean di mana pabrikan Jepang dapat melakukan perluasan segmen, seperti dulu Toyota melahirkan Avanza sebagai adiknya Kijang dan LCGC untuk kendaraan terjangkau. Kini, pemain asal Cina bergerak sangat agresif.

Lalu bagaimana pandangannya terhadap hal ini?

"Kompetisi dan disrupsi merupakan hal yang lumrah terjadi di semua industri, serta dapat hadir dalam bentuk yang beragam. Betul, memang saat ini kondisinya berbeda dengan 10-15 tahun yang lalu. Di mana Toyota berkontribusi signifikan dalam menumbuhkan pasar bahkan hingga menembus angka 1,2 juta unit di tahun 2013 saat peluncuran model baru Toyota Avanza," ungkapnya kepada GridOto. 

Menurutnya, kalau melihat lebih dalam, potensi pertumbuhan market Indonesia masih sangat besar, mengacu pada rendahnya tingkat motorisasi nasional.

Meskipun Indonesia konsisten memuncaki penjualan kendaraan roda 4 di ASEAN, tingkat rasio kepemilikan kendaraan roda 4 kita, lanjut Ernando, masih berada di angka 99 kendaraan per 1000 penduduk pada negara yang dihuni lebih dari 270 juta jiwa.

Berbeda signifikan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang berada di angka 400-an atau Thailand di angka 200-an dengan jumlah penduduk yang lebih sedikit.

Ia menuturkan, fakta ini tentu membuka peluang pertumbuhan yang sangat besar pada industri otomotif nasional yang juga berpotensi menghadirkan multiplier effect yang masif kepada pelaku didalamnya.

"Sehingga, langkah berikutnya adalah bagaimana bersama kita dapat memanfaatkan peluang yang ada untuk menumbuhkan industri nasional. Di mana hal ini menjadi tanggung jawab bersama, karena membangun market itu layaknya sebuah marathon," ungkapnya. 

YANG LAINNYA