Selain itu, bus dan truk besar tidak diperkenankan melintas di area terdampak dan dialihkan ke jalur arteri.
Hal tersebut untuk mengurangi beban pada konstruksi jalan yang mengalami retakan.
Petugas juga menerapkan pembatasan kecepatan kendaraan di kisaran 40-50 km per jam.
Selain itu, petugas juga telah memasang rambu peringatan dan pengamanan di lapangan untuk mengantisipasi kecelakaan, khususnya tabrak belakang.
Deny menuturkan, sebanyak 300 personel gabungan bersama Patroli Jalan Raya (PJR) disiagakan selama 24 jam untuk mengatur arus lalu lintas dan memastikan keselamatan pengguna jalan selama masa rekayasa berlangsung.
Baca Juga: Viral Pergerakan Tanah di Tol Cisumdawu, Dosek Teknik Sipil ITB Buka Suara
Sementara itu, Direktur Utama PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT), Agustinus Sudrajat, mengatakan, untuk penanganan jangka panjang, operator jalan tol menggandeng konsultan ahli guna melakukan kajian geoteknik menyeluruh.
Termasuk pengukuran topografi, penyelidikan lapisan tanah, hingga pemasangan alat pemantau pergerakan tanah.
Perbaikan permanen direncanakan menggunakan metode bore pile dengan kedalaman sekitar 30 meter dan panjang penanganan mencapai 100 meter.
"Selama proses perbaikan yang diperkirakan memakan waktu tiga hingga empat bulan, contra flow akan tetap diberlakukan di sekitar lokasi," papar Agus.
Meski demikian, pihak pengelola memastikan ruas jalan masih dalam kondisi aman dan laik dilalui dengan catatan pengguna jalan tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan.