GridOto.com - Penggunaan radiator coolant tidak bisa dilakukan sembarangan, termasuk dalam memilih jenis dan produknya.
Salah langkah, seperti mencampur coolant berbeda teknologi, bisa berdampak pada performa mesin hingga memicu overheat.
Radiator coolant sendiri merupakan cairan yang berfungsi menjaga suhu mesin tetap stabil sekaligus melindungi komponen dari karat.
Kandungan utamanya adalah ethylene glycol yang berperan dalam mengatur titik didih dan kemampuan pelepasan panas.
“Keandalan radiator coolant tidak hanya dilihat dari kemampuan melepaskan panas mesin. Cairan ini juga harus memiliki kemampuan dalam menekan timbulnya karat dalam sirkulasi radiator,” ujar Henry Sada, President Director PT Autochem Industry melalui keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, penggunaan air biasa masih sering dilakukan, padahal air keran mengandung mineral dan klorin yang bisa memicu korosi.
Ditambah suhu tinggi mesin dan oksigen, proses oksidasi pada logam seperti aluminium, tembaga, dan baja semakin cepat terjadi.
Selain itu, cairan radiator juga memiliki masa pakai.
Jika tidak diganti secara berkala, aditif anti karat di dalamnya akan habis dan membuat komponen logam lebih mudah berkarat.
Baca Juga: Begini Cara Autochem Industry Dukung Drifter Muda Lewat MFoS 2025
Secara umum, terdapat dua jenis aditif anti karat pada coolant, yaitu IAT (Inorganic Acid Technology) dan OAT (Organic Acid Technology).
IAT merupakan teknologi lama yang cocok digunakan pada radiator berbahan tembaga dan kuningan.
Aditif ini bekerja dengan membentuk lapisan pelindung di seluruh permukaan logam.
Namun, bahan anorganiknya seperti silikat dan fosfat cenderung cepat terurai, sehingga usia pakainya hanya sekitar 2-3 tahun atau 40.000 km.
Sementara itu, OAT merupakan teknologi yang lebih modern dan banyak digunakan pada kendaraan saat ini.
Aditif berbasis organik ini bekerja secara selektif dan tidak mudah membentuk endapan.
“Tanpa unsur anorganik, risiko terjadinya endapan menjadi sangat minim. Unsur organik lebih sulit terurai sehingga usia pakai cairan radiator menjadi lebih lama,” kata Henry.
Coolant OAT memiliki umur pakai lebih panjang, yakni 5-10 tahun atau hingga 100.000 km, tergantung komposisi glycol dan kondisi penggunaan.
Penggunaan OAT dinilai lebih sesuai untuk mesin modern dengan material aluminium dan jalur pendingin yang lebih sempit.
Baca Juga: Pentingnya Kuras Radiator Coolant Mobil, Bikin Komponen ini Awet
Namun, yang perlu diperhatikan adalah larangan mencampur coolant IAT dan OAT dalam satu sistem pendingin.
“Jika dicampur, kedua aditif akan saling menetralkan. Sistem pendinginan bisa kehilangan perlindungan terhadap korosi dan berpotensi menimbulkan endapan yang menghambat sirkulasi,” jelasnya.
Endapan tersebut bisa berubah menjadi lumpur atau gel yang menyumbat radiator, sehingga aliran cairan terganggu dan mesin lebih cepat panas.
Untuk itu, pemilihan produk coolant juga menjadi penting. Salah satu yang tersedia di pasaran adalah Master Radiator Coolant yang diklaim dirancang untuk penggunaan di iklim tropis.
“Sebelum mengganti radiator coolant, ada baiknya Anda memilih produk yang tepat. Master Radiator Coolant dirancang agar mampu memberikan performa maksimal pada mesin kendaraan, dengan kemampuan transfer heat yang baik dan titik didih lebih tinggi dari air,” ungkap Henry.
Sekadar informasi, Master Radiator Coolant tersedia dalam beberapa varian, seperti Master Radiator Cool, Master Radiator Coolant Premix, dan Master Radiator Coolant Gold, yang disesuaikan dengan kebutuhan dan spesifikasi mesin.
Dengan penggunaan coolant yang tepat dan tidak mencampur jenis berbeda, sistem pendingin dapat bekerja optimal dan menjaga mesin tetap dalam suhu ideal, sehingga risiko overheat bisa dihindari.