Sailun Group baru saja meresmikan pabrik mereka di Indonesia, yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026).
Kehadiran pabrikan ban anyar Sailun Group di Indonesia membuat persaingan pasar semakin ketat.
Guna bertahan di pasar Tanah Air, PT Sailun Tire Indonesia membeberkan strategi yang disiapkan untuk berkompetisi dengan pemain lain di pasar ban nasional.
Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, menjelaskan bahwa langkah awal perusahaan dimulai dari penguatan produk.
Menurutnya, kualitas menjadi faktor utama untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap merek yang masih tergolong baru.
“Mulai produknya dulu. Produk kami berkualitas. Kemudian teknologi kami akan terus ter-update mengikuti penyesuaian terhadap kebutuhan pasar, dan semua segmen pasar,” ujar Eko di Semarang, Sabtu (17/1/2026).
Selain produk, Sailun juga menaruh perhatian besar pada perluasan jaringan distribusi. Jaringan yang luas dinilai penting agar produk mudah dijangkau konsumen sekaligus mempercepat respons terhadap dinamika pasar.
Baca Juga: Sailun Group Resmikan Pabrik di Indonesia, Siap Jadi Basis Asia Tenggara
“Yang kedua adalah jaringan. Jaringan kami dengan partner yang cukup luas,” lanjutnya.
Saat ini, Sailun telah bekerja sama dengan sekitar 30 distributor di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui jaringan tersebut, perusahaan berupaya menjaga kedekatan dengan konsumen, sekaligus memastikan suplai produk berjalan cepat dan stabil.
“Yang pasti setidaknya distributor kami tetap dekat dengan konsumen, dengan supply yang cepat, mendengarkan selera konsumen yang cepat. Target improvement juga dengan cepat,” kata Eko.
Dengan mengandalkan kualitas produk, pembaruan teknologi, serta jaringan distribusi yang terus diperluas, Sailun optimistis dapat bersaing di tengah ketatnya pasar ban Indonesia yang saat ini dipenuhi berbagai merek lokal maupun global. (Naufal)
Optimis Melalui Segmen Replacement
Pasar domestik ban nasional tahun lalu tertekan seiring dengan penurunan penjualan mobil baru nasional.
Seperti diketahui capaian produksi mobil pada 2025 tercatat 803 ribu unit, atau turun 7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menjelaskan, masalah utama yang dihadapi industri ban nasional bukan hanya dari sisi produksi.
Baca Juga: Jadi 'Anak Baru', Begini Strategi Sailun Bersaing di Pasar Ban Indonesia
“Tetapi juga akibat melemahnya permintaan dan tantangan global,” katanya dikutip dari kontan.com
Namun demikian, pada 2026 ini, peluang pertumbuhan tetap terbuka. Untuk pangsa OEM sendiri memang belum diketahui, lantaran hingga saat ini GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) belum menentukan berapa target penjualan di 2026.
“Belum ditentukan, nanti setelah ketemuan dengan produsen mobil,” ungkap Jongkie Sugiarto, Ketua 1 GAIKINDO.
Namun, pasar secara keseluruhan akan tetap berprospek baik, terutama dari segmen replacement di mana relatif tahan terhadap tekanan daya beli.
Kebutuhan dasar pemeliharaan kendaraan dinilai tetap menjadi penopang utama industri ban.
Sejumlah faktor diproyeksikan menjadi pendorong kinerja perseroan, mulai dari portofolio produk yang beragam, optimalisasi efisiensi produksi, hingga penguatan jaringan distribusi. (Hend)
Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 38-XXXV 29 Januari 2026