Padahal, pembelian dilakukan dalam jumlah besar dengan skema bulk (pembelian grosir).
Ia menilai tidak ada perlakuan harga khusus untuk pembelian masif tersebut.
"Seharusnya, kami diberikan harga lebih ekonomis dan efektif sesuai anggaran. Namun, hingga akhir, sebagian besar produsen lokal tetap menghitung harga per unit seperti di pasar reguler, jadi menurut saya tidak fair," terangnya.
Untuk segmen truk ringan (light duty truck), Agrinas juga mengundang sejumlah pabrikan seperti Mitsubishi Fuso, Hino, Isuzu hingga Foton.
Namun setelah melalui proses kualifikasi dan negosiasi, kapasitas produksi maksimal dari pabrikan yang sudah merakit di dalam negeri ini hanya mencapai 45.000 unit.
Rinciannya, Mitsubishi Fuso sanggup memasok 20.600 unit, Foton Aumark 13.500 unit, Hino 10.000 unit, dan Isuzu 900 unit.
Baca Juga: Agrinas Belanja 105.000 Pikap dan Truk India, Produsen Lokal dan Menperin Prihatin
"Menimbang keterbatasan produksi dalam negeri, maka perseroan mengimpor untuk memenuhi kebutuhan Kopdes Merah Putih sejumlah 35.000 unit truk dari Tata Motors India," ujarnya.
Pada akhirnya, Agrinas memutuskan menggandeng dua produsen India, yakni Mahindra dan Tata Motors.