Sejak memulai produksi komersial secara konsisten pada 2019, pertumbuhan Leapmotor terbilang cukup agresif.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini bertransformasi dari pemain domestik menjadi salah satu kontender NEV dengan kapasitas produksi yang semakin besar di pasar Tiongkok.
Kunci strateginya ada pada pendekatan vertical integration.
Artinya, banyak komponen inti kendaraan listrik dikembangkan sendiri, mulai dari motor listrik dan sistem penggerak, kontrol kendaraan dan electronic architecture, perangkat lunak serta fitur pintar, sensor dan kamera untuk sistem cerdas, hingga integrasi baterai dan manajemen energi.
Pendekatan ini bikin Leapmotor punya kontrol kualitas yang lebih konsisten sekaligus mempercepat inovasi.
Di era mobil listrik modern, diferensiasi tak lagi cuma soal desain atau jarak tempuh, tapi juga soal otak kendaraan.
Babak baru Leapmotor dimulai saat menjalin kemitraan strategis dengan Stellantis pada 2023.
Kolaborasi ini kemudian diperkuat lewat pembentukan Leapmotor International pada 2024 sebagai basis ekspansi global.
Baca Juga: Tampil Sporty, Hot Hatcback Listrik Baru Leapmotor Siap Mengaspal, BYD Dolphin Waspada
Masuknya Leapmotor ke Indonesia lewat Indomobil menjadi bagian dari strategi tersebut.
Bagi Stellantis, kehadiran brand ini bukan sekadar menambah portofolio, tapi juga membawa pendekatan engineering dan penguasaan teknologi inti kendaraan listrik ke pasar yang tengah berkembang seperti Indonesia.
Dengan pasar EV nasional yang makin kompetitif dan didorong berbagai insentif pemerintah, menarik ditunggu model apa yang bakal diboyong Leapmotor ke Tanah Air.
Yang jelas, pemain baru ini datang bukan cuma jualan desain, tapi juga janji teknologi.