GridOto.com - Kini banyak jalan tol di Indonesia yang menggunakan beton, terkhusus ruas tol yang baru dibangun.
Kondisi ini juga sering menuai kritikan karena dinilai menimbulkan kebisingan dan getaran yang lebih terasa ketimbang jalan beraspal.
Namun di balik pemilihan material tersebut, ada pertimbangan teknis dan ekonomi jangka panjang yang menjadi dasar keputusan pengelola jalan tol.
Praktisi konstruksi jalan dan jembatan, Riski Wahyudi, menjelaskan bahwa jalan tol memang dirancang sebagai jalur bebas hambatan yang harus mampu menahan beban lalu lintas sangat besar.
Menurutnya, jalan tol dilalui berbagai jenis kendaraan, mulai dari yang ringan hingga berat dengan beban gandar tertinggi.
Karena itu, struktur perkerasan harus memiliki kekuatan ekstra agar mampu bertahan dalam jangka waktu panjang.
“Jalan tol didesain untuk melayani kendaraan hingga golongan tertinggi dengan beban gandar paling besar,” ujar Riski melansir Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: Bukan Orang Sembarangan, Mengenal Ir Sedyatmo Yang Namanya Dipakai Jalan Tol
Selain faktor beban kendaraan, umur rencana jalan tol juga menjadi pertimbangan utama.
Berbeda dengan jalan arteri biasa, jalan tol dirancang memiliki masa layanan yang jauh lebih panjang, yakni sekitar 40 hingga 45 tahun.
Perencanaan umur panjang ini berkaitan erat dengan studi kelayakan proyek dan perhitungan investasi agar pengelola jalan tol dapat mencapai pengembalian modal.
“Secara perencanaan, umur layanan jalan tol dibuat panjang supaya dari sisi feasibility study dan finansial proyek tetap menguntungkan,” lanjut Riski.
Dari sisi teknis, perkerasan beton dinilai lebih unggul karena memiliki ketahanan tinggi terhadap deformasi, seperti terbentuknya alur pada permukaan jalan yang kerap terjadi pada jalan beraspal akibat beban berat dan suhu tinggi.
Meski demikian, jalan beton memang sering dianggap kurang nyaman karena permukaannya yang lebih keras dan tingkat kebisingan yang lebih tinggi.
Baca Juga: Calon Jalan Tol Baru Ini Direstui Prabowo, Terkenal Punya Air Terjun di Tepi Jalan Utama
Menurut Riski, persoalan kenyamanan ini sebenarnya dapat diminimalkan melalui pendekatan desain yang tepat.
Salah satu solusi yang mulai diterapkan adalah penggunaan sistem perkerasan kombinasi.
Dalam metode ini, struktur utama jalan tetap menggunakan beton, sementara lapisan paling atas dilapisi aspal.
“Untuk meningkatkan kenyamanan berkendara, perkerasan beton bisa dikombinasikan dengan lapisan aspal di bagian permukaannya,” jelas dosen Teknik Sipil Untara tersebut.
Lapisan aspal berfungsi meredam kebisingan dan meningkatkan kenyamanan pengguna jalan, tanpa mengurangi kekuatan struktur beton yang menjadi tulang punggung jalan tol.