Pada era tersebut, pengguna Yamaha Vega sering mengeluhkan mesin yang cepat panas.
Menanggapi hal itu, Yamaha pun menghilangkan komponen balancer kruk as pada Jupiter, dan mengganti material blok silindernya dengan paduan aluminium berkualitas.
Material ini sengaja dipilih karena sangat baik dalam menghantarkan dan meradiasikan panas dari dalam mesin ke udara luar.
Itulah sebabnya mesin Jupiter terasa cepat panas di permukaan saat baru dinyalakan, karena itu adalah tanda bahwa sistem pendinginannya sedang bekerja maksimal membuang panas keluar.
Dari segi tampilan dan kenyamanan, Jupiter juga tampil lebih modern dengan lampu depan "mata belalang" yang ikonik.
Penggunaan dua buah lampu 55 watt dengan reflektor kristal membuat pencahayaannya jauh lebih terang dibanding Vega.
Belum lagi tambahan cover knalpot yang menjaga kaki pengendara agar tidak melepuh, sebuah detail kecil yang belum ada pada Vega kala itu.
Meski secara bobot Jupiter sedikit lebih berat 4 kg dan tidak selincah Vega karena jarak sumbu roda yang lebih panjang, motor ini menawarkan stabilitas yang lebih baik saat dipacu di jalan lurus.
Wajar saja jika saat pertama kali rilis di tahun 2001, Yamaha Jupiter dibanderol Rp 11.830.000, atau sekitar Rp 400.000 lebih mahal dari harga Vega.
Selisih harga tersebut terbukti sangat layak dibayar dengan segala keunggulan teknologi dan kenyamanan yang didapat.
Kesuksesan resep ini jugalah yang membuat nama besar Jupiter terus bertahan, bahkan sampai sekarang.
Tercatat Jupiter pernah mengalami sejumlah evolusi mulai dari Jupiter Z, Jupiter Z "Burung Hantu", hingga Jupiter Z1 injeksi yang masih dijual hingga 2026 ini.
Sobat GridOto ada yang pernah punya Yamaha Jupiter di rumah?