Belum Banyak yang Tahu, Ini Sejarah MetroMini, Bus Oranye Legendaris dari Jakarta!

Ditta Aditya Pratama - Kamis, 3 Oktober 2019 | 16:51 WIB

Ilustrasi Metro Mini 610 (Ditta Aditya Pratama - )

Memasuki tahun 2014 tarif menjadi Rp. 4.000 untuk umum dan Rp. 2.000 untuk pelajar dan pada tahun 2016 tarif turun menjadi Rp. 3.800,- kemudian Rp. 3,500,- untuk umum walaupun pada realitasnya di jalanan banyak pengemudi enggan menurunkan tarif.

Selain itu ada yang membuat MetroMini jadi bahan omongan karena kelakuan sopirnya yang kerap ugal-ugalan di jalanan.

Selain itu sopir pun bodoamat walau bus sudah overload sehingga kerap ditemui penumpang yang naik di atap hingga gelantungan di pintu. Yang penting setoran, Bos!

Kondisi bus juga banyak yang sebetulnya enggak layak dengan seringnya ditemui unit yang kacanya bolong-bolong, panel instrumen yang enggak berfungsi, hingga sumber polusi dengan asapnya yang hitam pekat.

Tapi bagaimanapun juga, MetroMini pada masa jayanya jadi moda transportasi segala kalangan, dari pegawai kantoran dengan kemeja rapi, pedagang, suporter Persija, hingga pelajar yang pulang pergi ke sekolah (termasuk berangkat tawuran), dan masih banyak lagi.

Kaskus
pelajar di atap metromini

Di era kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), keberadaan MetroMini dan Kopaja mulai tersaingi dengan adanya Transjakarta.

Selain itu, Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2014 tentang Transportasi mengamanatkan semua angkutan umum harus diremajakan setelah 10 tahun.

Karena rata-rata MetroMini dan Kopaja berumur di atas 10 tahun maka Ahok yang saat itu jadi gubernur ingin pemilik kendaraan tersebut bergabung di bawah bendera Transjakarta.

Tapi pemilik keberatan karena tak sanggup jika harus membeli armada baru.

Selain itu, Ahok meyakini bus yang beroperasi memang sudah tak laik jalan dan dikendarai ugal-ugalan.

Ahok yang kala itu sudah bersiap untuk perhelatan Asian Games 2018, membuka rute-rute yang dilayani Metro Mini dan Kopaja untuk mematikannya secara perlahan.

(Baca Juga: Cikal Bakal Metromini yang Dulu Jadi Angkutan Peserta Asian Games Tahun 1962)

Ia bahkan berjanji, saat Asian Games 2018, tak ada lagi MetroMini dan Kopaja jelek.

Tapi pada akhirnya pemerintah menoleransi keberadaan MetroMini dan Kopaja. Meskipun begitu permasalah antara bus-bus tersebut sering terjadi dengan Transjakarta.

Ini disebabkan trayeknya diserobot Transjakarta padahal mereka punya izin yang diperpanjang.

Mereka tak sanggup membeli kendaraan baru dan memilih menjual armadanya menjadi rongsokan dan alih usaha.

Ironinya, MetroMini muncul dan berkembang karena adanya Asian Games dan pada akhirnya redup karena Asian Games pula.

Jadi buat pembaca yang kebetulan tinggal di Jakarta pada tahun 1980-1990an pastinya punya deh kenangan dengan MetroMini.

Dicopet, digeber ugal-ugalan, dipalak preman, duduk di atap buat nonton Persija, berangkat tawuran, atau malah bertemu jodoh di MetroMini?

Fahdi Fahlevi / Tribunnews.com
Pernah ngalamin duduk di atap MetroMini seperti The Jak?