Anggap Sistem Ganjil Genap Kurang Efektif, Pengamat Transportasi UI Beri Saran Ini!

Gayuh Satriyo Wibowo - Senin, 19 Agustus 2019 | 13:25 WIB

Padatnya volume kendaraan bermotor, sebabkan Jakarta berpolusi tinggi (Gayuh Satriyo Wibowo - )

Maka kendaraan roda dua juga merupakan salah satu penyumbang padatnya udara Jakarta dengan asap kendaraan bermotor.

Selain itu, efek berkelanjutan dari perluasan ganjil genap tidak mengubah pola masyarakat Jakarta yang gemar mengendarai kendaraan pribadi.

Naufal Shafly/GridOto.com
Rambu larangan melintas bagi kendaraan berpelat ganjil di tanggal genap dan sebaliknya

Bukannya beralih ke kendaraan umum  karena adanya perluasan wilayah ganjil genap, mereka cenderung menambah kendaraan mereka guna melengkapi koleksi kendaraan dengan plat ganjil dan genap.

Walaupun jika jumlah mobil pribadi berkurang, nantinya akan ada pertambahan jumlah kendaraan roda dua yang dikiranya masif karena pengguna mobil yang beralih ke roda dua.

(Baca Juga: Agar Bebas Zona Ganjil Genap, Asosiasi Driver Online Minta Stiker Khusus ke Pemprov DKI)

"Kalau dilihat tren pengguna transportasi umum memang bertambah sejak penerapan ganjil genap, tapi tidak sesignifikan dengan penambahan populasi motor baru yang tiap hari mungkin terus meningkat," ujar Ellen.

Ellen menyarankan, ada hal yang menurutnya lebih cocok diaplikasikan di Ibukota guna menekan angka penggunaan kendaraan pribadi.

Yakni dengan menerapkan sistem jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP).

Dengan adanya sistem tersebut, tentu jumlah penggunaan kendaraan pribadi di Ibukota akan jauh menurun dan masyarakat beralih ke kendaraan umum.

(Baca Juga: Ganjil Genap Ternyata Merugikan Restoran di Gunung Sahari, Omzet Hingga 40 Persen)