Namun, ada tantangan tersendiri. Jika salah satu roda berada di permukaan licin dan mulai kehilangan traksi, torsi dari motor roda tersebut tidak dapat secara otomatis dialihkan ke roda lain yang masih memiliki cengkeraman.
Untuk mengatasi masalah tersebut, paten Geely menjelaskan sebuah mekanisme pengunci yang menghubungkan kedua poros penggerak belakang melalui kopling berbasis fluida.
Masing-masing motor menggerakkan rodanya melalui reduksi gigi yang terpisah.
Di antara kedua poros penggerak yang sejajar terdapat unit kopling yang terdiri dari dua bagian yang saling terhubung.
Salah satu bagian memiliki ruang berisi cairan peredam, sementara bagian lainnya dilengkapi impeller atau baling-baling yang berputar di dalam cairan tersebut.
Baca Juga: Adu Nyaman Kekedapan Kabin JAECOO J7 SHS Vs Geely Starray EM-i
Dalam kondisi berkendara normal, perbedaan putaran antara kedua poros relatif kecil sehingga hambatan dari cairan juga minim.
Dengan begitu, roda kiri dan kanan tetap dapat berputar dengan kecepatan berbeda saat menikung tanpa gangguan berarti.
Namun ketika terjadi perbedaan putaran yang besar, misalnya saat satu roda kehilangan traksi dan berputar bebas, impeller akan mengaduk cairan peredam dengan lebih kuat.
Kondisi ini menghasilkan hambatan viskos yang semakin besar untuk melawan perbedaan putaran antara kedua poros.
Akibatnya, sebagian torsi dapat disalurkan ke roda yang masih memiliki traksi.
Secara konsep, sistem ini mirip dengan viscous limited-slip differential (LSD), tetapi konstruksinya berbeda dari sistem penggerak off-road konvensional.
Jika LSD biasa menjadi bagian dari diferensial mekanis, solusi Geely menghubungkan dua poros penggerak yang masing-masing memiliki motor listrik sendiri.