Imbas Kebijakan Dedi Mulyadi, Sopir Bus Pariwisata Alih Jadi Tukang Cangkul, Gaji Rp 1 Juta per Bulan

By , Kamis, 24 Juli 2025 | 08:30 WIB

Barisan bus Pariwisata yang demo menolak kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi soal larangan study tour (Novrian Arbi/Antara)

Jaya mengatakan, mayoritas pelanggan PO tempat ia bekerja adalah pelajar yang hendak mengikuti kegiatan study tour.

"Kalau enggak ada study tour, ya enggak jalan bus-nya," katanya.

Menurutnya, dampak kebijakan ini bukan hanya dirasakan oleh perusahaan, tapi juga oleh lapisan paling bawah dalam rantai industri pariwisata: sopir, kernet, dan keluarga mereka.

Baca Juga: Pakar yang Bilang, Pelajaran Ini Harus Diambil dari Kecelakaan Bus Study Tour SMAN 1 Sidoarjo

Demo para pelaku usaha pariwisata mendatangkan puluhan bus di Gedung Sate, kota Bandung, Jawa Barat menolak kebijakan larangan study tour Dedi Mulyadi (Novrian Arbi/Antara)

Gelombang protes dari para pelaku industri pariwisata memuncak pada Senin (21/7/25).

Ribuan sopir, kru bus, dan pelaku usaha lainnya turun ke jalan.

Mereka memarkirkan puluhan bus pariwisata di sepanjang Jalan Diponegoro dan halaman Gedung Sate, Kota Bandung.

Klakson telolet dibunyikan, sebagai bentuk simbolis dari 'tanda bahaya' bagi industri mereka.

Setelah konvoi, massa berkumpul di halaman Gedung Sate untuk menyampaikan orasi dari atas mobil komando.

Koordinator aksi, Herdi Sudardja, menyebut kebijakan Dedi Mulyadi telah menyengsarakan banyak orang.

Ia mengatakan, dibanding pandemi Covid-19 sekalipun, dampak larangan study tour lebih menyesakkan.

Baca Juga: Berkaos Singlet, Dedi Mulyadi Selebrasi Heboh Injak Atap Lexus LX 600 Yang Sempat Nunggak Pajak Rp 42 Juta