Berbekal latar belakangnya sebagai ahli penerbangan, D'Ascanio menerjemahkan visi tersebut dengan mendesain kerangka skuter yang mengadopsi struktur mekanis mirip sebuah helikopter.
Pengaruh kuat dunia kedirgantaraan tersebut dapat dilihat secara nyata pada sistem perpindahan gigi yang diintegrasikan langsung pada area grip setang kemudi serta konstruksi fork atau garpu suspensi depan.
Menariknya, pendekatan rancang bangun yang dilakukan D'Ascanio terbilang tidak lazim.
Soalnya ia menyelesaikan seluruh cetak biru bodi kendaraan terlebih dahulu secara matang sebelum mulai memikirkan sektor dapur pacu.
Metode pengerjaan yang mendahulukan bodi daripada mesin inilah yang akhirnya melahirkan sejarah konstruksi mesin kanan Vespa.
Ketika desain eksterior telah selesai dibuat, ruang di sektor tengah bodi terbukti tidak lagi menyisakan tempat yang cukup untuk menampung dimensi mesin 150 cc kala itu yang tergolong besar.
Sebagai solusi teknis yang solutif, penempatan mesin pun akhirnya digeser ke sisi samping kanan bodi kendaraan.
Kompromi desain yang jenius ini resmi mengaspal secara perdana pada tahun 1946 melalui peluncuran Vespa generasi pertama berkapasitas mesin 98 cc, yang hingga kini mewariskan sebuah identitas teknik paling unik di dunia otomotif global.
Sejarah di balik posisi mesin Vespa ini beneran membuktikan kalau keterbatasan justru bisa melahirkan karya seni yang abadi ya.
Karena dirancang oleh seorang insinyur helikopter yang mendahulukan estetika dan fungsionalitas bodi agar pengendara tidak kecipratan oli, penempatan mesin di sisi kanan akhirnya justru menjadi ciri khas yang tidak bisa ditiru oleh motor lain di dunia.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR