Kinerja Bridgestone Indonesia juga diperkuat oleh kontribusi ekspor ke berbagai negara.
“Ban mobil passenger dan komersial, baik untuk market replacement maupun OEM, tetap menjadi andalan bagi BSIN. Bridgestone juga ditopang oleh ekspor ke lebih dari 70 negara,” jelasnya.
Mukiat mengakui bahwa tantangan industri ban pada 2026 masih dipengaruhi oleh dinamika ekonomi.
Meski demikian, Bridgestone memilih fokus pada penyesuaian produk dan layanan agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
“Tantangan terbesar adalah perubahan ekonomi, namun fokus kami adalah bagaimana menghadirkan produk dan layanan toko retail yang sesuai dengan permintaan konsumen,” kata Mukiat.
Ia juga menilai kehadiran merek-merek ban baru di Indonesia sebagai perkembangan positif bagi industri.
Menurutnya, kompetisi justru akan memperluas pasar dan memberi lebih banyak pilihan bagi konsumen.
“Kami meyakini bahwa hadirnya merek ban baru akan membawa dampak positif dengan membuka lebih banyak lapangan kerja serta memberikan konsumen pilihan ban yang lebih beragam di pasar,” ujarnya.
Sejalan dengan tren elektrifikasi, Bridgestone turut menyiapkan produk untuk mendukung pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia.
Mukiat menjelaskan bahwa secara tampilan, ban untuk mobil listrik tidak berbeda dengan ban mobil konvensional.
“Secara visual, tidak ada perbedaan antara ban EV dan mobil konvensional. Perbedaannya hanya pada load index karena bobot mobil EV lebih besar dengan adanya baterai,” jelasnya.
Selain itu, ban mobil listrik umumnya dilengkapi material tambahan untuk meningkatkan kenyamanan.
“Ban EV juga umumnya memiliki bahan foam atau busa di bagian dalam ban untuk mengurangi noise,” tambah Mukiat.
Lebih lanjut, ia menegaskan Bridgestone telah memiliki produk yang siap digunakan pada kendaraan listrik.
“Sejak 2023, kami sudah memiliki jajaran produk dengan teknologi ENLITEN yang EV-ready. Baik Ecopia EP300 maupun Turanza 6 merupakan pilihan optimal untuk EV,” pungkasnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR