Dari prediksi pergerakan sekitar 2,9 juta orang keluar dan masuk wilayah Jabotabek, jumlah pengguna Travoy mencapai sekitar 60 ribu atau setara 30 persen dari target utilisasi yang diharapkan Jasa Marga.
Baca Juga: Catat, Ini Dia Peta SPKLU di Jalur Tol Jasa Marga Selama Nataru
“Angka itu menunjukkan masyarakat mulai terbiasa mengecek kondisi jalan terlebih dahulu. Bahkan pada 4 Januari 2026, kepadatan yang kami khawatirkan tidak terjadi,” ungkap Rivan.
Ia menilai, kelancaran arus lalu lintas tersebut tidak lepas dari peran informasi real-time yang diakses pengguna sebelum memulai perjalanan.
Dengan mengetahui titik padat, kondisi rest area, hingga situasi di ruas tol tertentu, pengendara bisa mengambil keputusan lebih tenang dan terencana.
Enggak hanya soal CCTV, Travoy juga terhubung dengan sistem manajemen rest area milik Jasa Marga.
Fitur ini memungkinkan pengguna memantau kepadatan rest area sebelum masuk, sehingga dapat menghindari antrean panjang yang kerap menjadi pemicu kelelahan saat perjalanan jauh.
“Travoy bukan hanya soal kamera, tapi bagaimana informasi itu benar-benar dipakai masyarakat untuk mengatur perjalanan mereka. Di hari normal pun, aplikasi ini paling sering digunakan untuk cek lalu lintas, derek, dan kondisi jalan tol,” jelas Rivan.
Ke depan, Jasa Marga menargetkan peningkatan utilisasi Travoy menjelang libur Lebaran 2026.
Pembaruan fitur akan terus dilakukan agar aplikasi ini semakin relevan sebagai solusi perjalanan, bukan sekadar pelengkap.
“Kami berharap Travoy bisa digunakan lebih luas di seluruh ruas tol. Dengan migrasi teknologi ini, mau tidak mau kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang cepat dan akurat terus kami jawab,” pungkasnya.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR