Ia menjelaskan, dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, biaya logistik berpotensi meningkat signifikan.
Bob mencontohkan krisis di Timur Tengah yang sebelumnya mengganggu jalur pelayaran global.
“Biasanya, kalau ada gonjang ganjing, biaya logistik itu akan naik, ya. Seperti waktu krisis Timur Tengah sehingga tidak bisa menggunakan terusan Suez, sehingga arus logistik itu memutar sampai ke Tanjung Harapan. Itu juga membuat harga logistik menjadi dua kali itu lebih mahal,” katanya
Selain logistik, Bob juga menyoroti ketergantungan industri otomotif global terhadap rantai pasok lintas negara.
Menurutnya, saat ini tidak ada lagi industri yang bisa berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain, termasuk pada sektor otomotif.
Ia memberi contoh material kritis pada baterai kendaraan elektrifikasi yang berasal dari berbagai negara di dunia, mulai dari China, Ukraina, kawasan ASEAN, hingga Amerika Selatan.
“Jadi, sekali terjadi ketegangan, arus barang itu terganggu, otomatis supply chain juga akan terganggu. Jadi, itu yang harus kita perhatikan.”
Bob menambahkan, industri otomotif sejatinya dirancang untuk perdagangan multilateral.
Namun, kondisi dunia yang semakin terfragmentasi berpotensi memengaruhi kelancaran logistik dan rantai pasok global.
Baca Juga: Harga Spesial Masih Berlaku, Toyota Perpanjang Pre-Book Veloz Hybrid
“Apalagi model-model yang terbaru, elektrifikasi, itu banyak menggunakan material-material seperti magnetik, baterai, yang terus terang kita masih banyak bergantung kepada impor, itu yang harus kita waspadai,” tutupnya.
Jumlah Ekspor Toyota ke Venezuela
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari-November 2025 Toyota telah mengaplakan ribuan unit mobil ke Venezuela.
Pada periode tersebut, Toyota mengirimkan dua model yakni Yaris Cross dan Wigo.
Yaris Cross tersalurkan sebayakn 1.008 unit ke Venezuela, sedangkan Wigo mencapai 5.971 unit.
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR