Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Kelihatannya Aman, Kebiasaan Ini Diam-diam Bikin Transmisi Mobil Matik Cepat Rusak

Ferdian - Minggu, 4 Januari 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi mobil matik melewati tanjakan
Okkie Dwi H./GridOto.com
Ilustrasi mobil matik melewati tanjakan

GridOto.com – Buat pemilik mobil matik, ada satu kebiasaan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya buruk ke transmisi kalau jadi kebisaan.

Seperti saat melewati tanjakan atau jalanan terjal, banyak pengemudi mobil matik memilih pindah tuas transmisi ke posisi L (low).

Tujuannya supaya mobil punya torsi lebih besar karena girboks ditahan di gigi rendah.

Secara fungsi, posisi L memang membantu saat kondisi tertentu.

Namun yang perlu diingat, penggunaan gigi rendah dengan putaran mesin tinggi secara terus-menerus bisa memicu masalah di kemudian hari.

Kepala Bengkel Kurnia Motor, Sulistiyono pernah menjelaskan bahwa kebiasaan menahan laju mobil di gigi rendah dengan RPM tinggi berisiko membuat komponen transmisi matik, terutama tipe CVT, bekerja terlalu keras.

“Komponen kopling ganda dan clutch disc bisa selip karena CVT belt dan pulley terus bergesekan dan akhirnya overheat,” jelas Sulis dikutip GridOto.

Ia menambahkan, penggunaan gigi L secara berlebihan belum tentu membuat torsi mesin benar-benar maksimal, tapi justru memperbesar risiko CVT selip.

Baca Juga: Hati-hati, Ini Bahaya Oli Transmisi Mobil Matik Bekas Rembes Dibiarkan

ILUSTRASI. Tuas transmisi mobil matik
Honda Indonesia
ILUSTRASI. Tuas transmisi mobil matik

Selain soal gigi L, ada kebiasaan lain yang juga sering dilakukan pengemudi mobil matik, khususnya saat melintas di daerah pegunungan atau jalan macet naik-turun.

Banyak pengemudi membiarkan tuas transmisi tetap di posisi D atau L saat stop and go, dengan alasan lebih praktis dan tidak perlu sering pindah gigi.

Padahal, cara ini justru bikin komponen girboks bekerja lebih berat dan suhunya cepat naik.

“Kalau terus di D atau L saat macet, sirkulasi oli transmisi jadi lebih lambat. Akibatnya respons perpindahan gigi bisa terlambat,” ujar Sulis.

Masalah ini bisa terjadi baik pada transmisi matik konvensional maupun CVT. Hanya saja, dampaknya bisa berbeda.

Pada matik konvensional, selip kopling bisa merembet ke kerusakan gigi transmisi.

Kalau sudah parah, mobil bisa tidak mau maju atau mundur sama sekali.

“Ciri awalnya biasanya terasa ada jeda saat tuas dipindah ke D. Mobil baru jalan setelah beberapa detik,” pungkasnya.

Jadi mulai sekarang, sebaiknya lebih bijak menggunakan posisi gigi L dan jangan terlalu lama menahan mobil di D saat kondisi stop and go. Selain bikin transmisi lebih awet, berkendara juga jadi lebih aman dan nyaman.

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa