Ban Lebih Mudah Pecah Karena Kurang Angin atau Kelebihan Angin? Ini Penjelasannya

Ditta Aditya Pratama - Rabu, 16 Oktober 2019 | 20:56 WIB
Ilustrasi ban pecah pada mobil
kompas.com
Ilustrasi ban pecah pada mobil

GridOto.com - Kondisi ban yang bermasalah memang jadi salah satu penyebab kecelakaan di jalan raya, salah satu penyebabnya adalah ban pecah.

Tapi yang jadi pertanyaan, sebetulnya ban lebih mudah pecah kalau tekanan angin kurang atau kelebihan angin ya?

Tekanan angin adalah hal yang sangat penting untuk dipantau sebelum kita berkendara.

Tekanan angin ban yang salah, bisa memengaruhi kenyamanan dan paling parah bisa menyebabkan pecah ban yang berujung pada kecelakaan.

Terdapat perbedaan pendapat di masyarakat soal tekanan ban yang bisa menyebabkan pecah ban.

(Baca Juga: Ban Pecah di Jalan Tol, Pengemudi Bisa Antisipasi dengan Cara Ini)

Banyak yang bilang, tekanan angin terlalu tinggi yang bisa bikin ban pecah. Ternyata salah!

Meski kelebihan tekanan hingga 10 psi, tidak akan sanggup membuat ban menjadi pecah. 

Kekurangan angin justru bisa membuat pecah ban.

Bidang kontak ban ke jalan jadi terlalu banyak kalau ban kempis.

Kalau terus dipakai akan menjadi panas, sehingga semakin mengembang dan kawat baja tidak dapat menahan pengembangan pemuaian sehingga bisa pecah.

(Baca Juga: Ban Pecah, Mobil PT Pos Seruduk Tiang Listrik, Yuk Ketahui Lagi 4 Penyebab Ban Bisa Tiba-tiba Pecah)

Tapi kalau ngomong soal ban pecah, enggak melulu karena soal tekanan angin yang kurang atau lebih.

Menanggapi hal itu, pakar Safety Driving Jusri Pulubuhu dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) pun angkat bicara.

Menurutnya, pada saat berkendara ada beberapa perilaku yang membuat beban kerja ban menjadi berat.

"Misalnya menghajar lubang atau melalui jalan rusak dengan keras dan sebagainya," ujar pria yang akrab disapa Jusri kepada GridOto.com beberapa waktu lalu.

Ia mengungkapkan, cara berkendara seperti itu tentunya sangat menyiksa ban.

(Baca Juga: Ban Pecah Saat Mobil Melaju, Ingat 5 Hal Ini)

Selain itu, pengemudi juga tidak dianjurkan melakukan akselerasi dan deselerasi yang kasar atau disebut hard braking.

"Ini adalah bagian antisipatif agar kinerja ban tidak terlalu berat beban kerjanya," imbuhnya.

Cara berkendara tersebut, lanjut dia, adalah aspek defensif atau perilaku mengemudi dalam memperkecil peluang kecelakaan yang dilakukan setelah melewati aspek preventif terlebih dahulu.

Preventif dalam sisi safety merupakan tindakan sebelum berkendara untuk mengurangi kemungkinan terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

Tindakan preventif terhadap ban bisa dilakukan dengan memastikan kondisi ban laik jalan.

Di antaranya memperhatikan umur ban, kebersihan ban, tekanan angin ban, dan merawat ban.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X