Baca Juga: Update Harga BBM Naik Mulai 10 Juni, Pertamax Kini Rp 16.250
Bahlil hanya menekankan saat ini pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi (Pertalite dan Bio Solar) guna mendukung daya beli masyarakat.
"Pemerintah lagi sedang menggodok hal-hal yang terkait dengan menjaga daya beli masyarakat. Makanya kita untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama kepada BBM subsidi sama sekali tidak kita naikkan," kata Bahlil.
Senada, Direktur Utama PT Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan, kenaikan harga Pertamax dilakukan mengikuti perkembangan harga minyak dunia yang trennya menguat imbas konflik di Timur Tengah.
Ia mengatakan, dinamika geopolitik global yang mendorong kenaikan harga minyak membuat perusahaan harus menyesuaikan harga BBM non-subsidi.
Meski begitu, Simon menyebut kenaikan Pertamax tetap memperhatikan daya beli masyarakat.
"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujarnya dikutip dari Instagram resmi Pertamina, (11/6/26).
Simon mengatakan, pihaknya memahami setiap perubahan harga BBM menjadi perhatian masyarakat.
Maka dari itu, penyesuaian harga Pertamax dilakukan dengan memperhitungkan berbagai faktor.
Dalam upaya menjaga daya beli masyarakat, harga BBM subsidi juga ditetapkan tidak naik.
Sesuai arahan pemerintah, harga Pertalite tetap Rp 10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp 6.800 per liter.
Baca Juga: Tembus Rp 16.250 Per Liter, Ini Alasan Harga Pertamax dan Pertamax Green Meroket Tajam
Lebih lanjut, Simon menyebut, penyesuaian harga BBM non-subsidi pada dasarnya tidak hanya dilakukan di SPBU Pertamina, tetapi juga pada SPBU milik badan usaha swasta karena mengikuti kondisi pasar.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta," ucapnya.