Dikira Lebih Hemat, Ini Dampak Campur Pertalite dan Pertamax di Mesin Mobil

Ferdian - Kamis, 11 Juni 2026 | 21:05 WIB

Ilustrasi SPBU Pertamina

GridOto.com - Mencampur Pertamax dengan Pertalite masih dilakukan oleh sebagian pengendara.

Alasannya supaya mesin bisa dapat kualitas bahan bakar yang lebih baik tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar.

Terlebih baru-baru ini harga BBM non subsidi Pertamax sedang melonjak naik.

Padahal, kedua BBM produksi Pertamina tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

Pertalite memiliki angka oktan atau Research Octane Number (RON) 90, sedangkan Pertamax mengusung RON 92.

Perbedaan angka oktan tersebut berpengaruh terhadap proses pembakaran di dalam mesin serta performa yang dihasilkan kendaraan.

Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa pencampuran kedua bahan bakar tersebut akan menghasilkan angka oktan di antara keduanya.

"Jika kedua bahan bakar tersebut dicampur dalam perbandingan sama, misalnya 50:50, maka nilai oktannya berada di kisaran RON 91," jelas Jayan dikutip GridOto.

Baca Juga: Harga Pertamax Makin Mahal, Sebelum Pindah ke Pertalite Cek Ini Dulu

Meski berada di tengah-tengah, menurutnya angka tersebut tidak lagi mewakili spesifikasi asli dari masing-masing produk.

Jayan menilai perubahan angka oktan itu dapat membuat proses pembakaran tidak bekerja secara optimal sehingga performa mesin berpotensi mengalami penurunan.

Bagi pengguna yang sebelumnya terbiasa menggunakan Pertalite, campuran tersebut mungkin memberikan sensasi yang sedikit lebih baik.

Namun, kondisi berbeda bisa terjadi pada kendaraan yang memang dirancang menggunakan Pertamax.

Pendapat serupa disampaikan ahli konservasi energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri.

Melansir Kompas.com, Tri menjelaskan bahwa Pertamax memiliki kandungan aditif pembersih yang tidak terdapat pada Pertalite.

Ketika kedua jenis BBM tersebut dicampur, keseimbangan kandungan aditif menjadi berubah dan berpotensi mempercepat terbentuknya kerak karbon di ruang bakar.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Bolehkah Mesin Kompresi Tinggi Pakai RON 90?

Penumpukan kerak karbon tersebut dapat mengganggu efisiensi pembakaran dan berujung pada menurunnya performa mesin.

Oleh sebab itu, pencampuran dua jenis bensin dengan spesifikasi berbeda tidak dianjurkan.

Sementara itu, pemilik bengkel spesialis Nissan dan Honda di Yogyakarta, Hardi Wibowo, mengatakan bahwa berdasarkan pengamatannya terhadap kendaraan modern yang menjalani servis berkala setiap enam bulan, penggunaan bahan bakar campuran cenderung membuat ruang bakar lebih cepat kotor.

Menurut Hardi, residu yang dihasilkan Pertamax umumnya lebih sedikit dibandingkan Pertalite.

Saat kedua BBM tersebut dicampur, sisa pembakaran yang terbentuk cenderung lebih lengket dan lebih sulit dibersihkan, meskipun jumlahnya tidak sebanyak ketika kendaraan hanya menggunakan Pertalite.

Ia pun mengingatkan pemilik kendaraan untuk mengikuti spesifikasi yang telah ditetapkan pabrikan, khususnya mengenai angka oktan minimum yang dibutuhkan mesin.

Pasalnya, banyak mesin mobil modern memiliki rasio kompresi tinggi untuk menghasilkan tenaga sekaligus efisiensi yang lebih baik.

Baca Juga: Bukan Rp 16.250, Harga Resmi Pertamax 92 di Kota Ini Sampai Rp 17.000 Per Liter

Mesin dengan kompresi tinggi membutuhkan bahan bakar beroktan lebih tinggi agar proses pembakaran berlangsung pada waktu yang tepat.

Jika kendaraan diisi bensin dengan angka oktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan, beberapa risiko yang dapat muncul antara lain gejala knocking atau ngelitik, performa yang tidak maksimal, hingga kebutuhan pembersihan ruang bakar yang lebih sering.

Karena itu, mencampur Pertamax dengan Pertalite bukanlah solusi yang disarankan.

Kandungan dan karakter masing-masing bahan bakar dapat saling memengaruhi sehingga performa mesin tidak bekerja sesuai dengan yang dirancang oleh pabrikan.

YANG LAINNYA