GridOto.com - Imbas melemahnya rupiah diiringi dengan kenaikan harga BBM baru-baru ini, pengusaha bus pariwisata mulai putar otak.
Salah satunya disampaikan oleh pengusaha asal Lamongan, Jawa Timur ini yang mengaku mulai mengatur strategi operasional sejumlah armadanya.
Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap tingginya biaya operasional perusahaan otobus, termasuk belanja suku cadang kendaraan.
Menurut Direktur Biru Samudra ,Hj. Tina Indriani, kenaikan kurs dolar membuat harga suku cadang kendaraan, oli sampai kebutuhan perawatan bus mengalami lonjakan signifikan.
Apalagi saat ada kenaikan sebagian jenis BBM yang akan berdampak pada semua sendi ekonomi.
Sementara itu, permintaan penyewaan bus pariwisata hanya berjalan stabil belum sepenuhnya pulih sejak awal tahun 2026.
“Biaya operasional sekarang semakin berat. Harga sparepart naik terus karena banyak komponen yang masih bergantung impor. Di sisi lain, order bus pariwisata belum ada lonjakan yang lebih,” katanya menukil TribunJatim (10/6/2026).
Baca Juga: Filter Solar Punya Peran Penting pada Mesin Diesel, Simak Fungsinya
Ia menyebut kondisi tersebut memaksa para pelaku usaha melakukan efisiensi. Untungnya armada yang dimiliki Biru Samudra rata-rata tahun muda.
"Hanya ada satu armada keluaran dibawah tahun 2019. Lainnya tahun-tahun mudah yakni 2019 ke atas, " katanya.
Yang beroperasi adalah bus-bus tahun muda. Sementara armada tahun tua alias sepuh banyak parkir.
Langkah memarkir bus tahun tua itu dilakukan agar perusahaan tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.
“Bukan berhenti total, tapi armada itu sementara kami istirahatkan dulu supaya biaya operasional tidak membengkak,” ujarnya.
Selain dampak kurs rupiah, Tina menilai menurunnya aktivitas wisata dan kegiatan rombongan sekolah turut mempengaruhi pendapatan pengusaha bus pariwisata.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan stimulus atau kebijakan yang meringankan beban pelaku usaha transportasi, seperti keringanan pajak kendaraan umum, penurunan harga BBM industri, hingga insentif untuk suku cadang kendaraan.
“Kalau tidak ada langkah konkret, banyak pengusaha bus yang kesulitan bertahan. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah,” tuturnya.
Ia menambahkan, para pengusaha bus pariwisata di daerah kini hanya bisa bertahan sambil menunggu kondisi ekonomi kembali membaik dan daya beli masyarakat pulih.