Skema Mudik Lebaran 2026, Ganjil Genap Berlaku Jika Kondisinya Begini

Irsyaad W - Jumat, 30 Januari 2026 | 11:00 WIB

Ilustrasi pemberlakuan ganjil genap di jalan tol selama arus mudik dan balik lebaran

GridOto.com - Kini banyak pihak sudah mempersiapkan menyambut momen mudik lebaran 2026.

Termasuk Kepolisian dan Kementerian Perhubungan untuk mengatur rekayasa lalu lintas, salah satunya ganjil genap.

Jasa Marga pun menyatakan kebijakan ganjil genap tidak akan diterapkan secara kaku, melainkan berbasis kondisi kepadatan lalu lintas di lapangan dan analisis data pergerakan kendaraan.

Direktur Utama PT Jasa Marga, Rivan Purwantono, mengatakan penerapan ganjil genap akan ditentukan melalui sejumlah indikator teknis.

Salah satu yang menjadi acuan utama adalah V/C ratio (volume to capacity ratio), yakni perbandingan antara volume kendaraan dengan kapasitas jalan.

"Ganjil genap itu akan diterapkan berdasarkan profil kepadatan kendaraan," ujar Rivan di Menara Kompas, Jakarta, (27/1/26) menyitat Kompas.com.

"Seperti yang disampaikan Kakorlantas, ada beberapa elemen penting dalam perhitungan, salah satunya V/C ratio," bebernya.

Baca Juga: Begini Cara Atur Google Maps Supaya Terhindar Dari Tilang Ganjil Genap

Sebagai contoh, jika dalam satu jam satu lajur pada satu ruas tol sudah dilalui sekitar 5.000 kendaraan, maka berbagai skema rekayasa lalu lintas akan dipertimbangkan lebih dulu.

Dari contraflow satu lajur, dua lajur, hingga tiga lajur, bahkan opsi one way total.

Namun, apabila seluruh skema tersebut dinilai belum mampu mengurai kepadatan, maka ganjil genap berpotensi diberlakukan.

Menurut Rivan, gagasan ini merupakan bagian dari arahan Kakorlantas Polri, yang dinilai sebagai langkah preventif dan strategis.

Dalam pelaksanaannya, Jasa Marga menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan rekayasa lalu lintas kepada Korlantas Polri, dengan keputusan yang diambil berbasis data gabungan antara Jasa Marga dan kepolisian.

Tujuan utama dari kebijakan ini, menurut Rivan, bukan untuk membatasi masyarakat, melainkan menjaga kenyamanan dan kelancaran perjalanan.

Ia menekankan tidak mungkin seluruh pemudik berangkat di waktu yang sama tanpa menimbulkan kepadatan ekstrem.

Karena itu, diperlukan disiplin bersama dalam mengatur waktu perjalanan dan mengikuti kebijakan lalu lintas yang diterapkan.

YANG LAINNYA