Meski demikian, faktor performa tetap menjadi pertimbangan penting bagi konsumen.
Karena itu, Jaecoo berupaya menghadirkan keseimbangan antara efisiensi dan tenaga melalui teknologi SHS.
“Melalui teknologi SHS, Jaecoo menghadirkan kombinasi efisiensi tinggi dengan respons berkendara yang tetap bertenaga, sehingga konsumen tidak perlu mengorbankan salah satu aspek,” kata Ryan.
Ia menjelaskan, keunggulan SHS terletak pada kemampuannya menghadirkan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik, namun tanpa kekhawatiran jarak tempuh.
“Contohnya penggunaan J7 untuk berkendara harian sekitar 100 km, di mana J7 dapat menggunakan mode EV sepenuhnya, sehingga biaya operasional menjadi lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional,” ujarnya.
Selain efisiensi, karakter berkendara juga menjadi nilai jual utama.
“SHS menghadirkan torsi instan dan akselerasi yang responsif, sehingga memberikan pengalaman berkendara yang hemat, bertenaga, dan nyaman,” tambah Ryan.
Secara pasar, penjualan PHEV di Indonesia memang menunjukkan pertumbuhan signifikan pada 2025.
Berdasarkan data wholesales GAIKINDO, penjualan PHEV sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai 4.312 unit, melonjak tajam dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat sekitar 136 unit.
Dalam peta persaingan, merek asal Tiongkok masih mendominasi.
Chery tercatat sebagai pemimpin pasar dengan penjualan kumulatif 3.192 unit, sementara Jaecoo berada di posisi kedua dengan total 762 unit.
Lonjakan penjualan PHEV mulai terlihat sejak pertengahan 2025, seiring agresivitas pabrikan China dalam meluncurkan model-model baru.