Namun menurut Decky, visual hanyalah permukaan.
“Identitas itu jiwa brand. Saat orang pakai Rawtype Riot, mereka bukan cuma pakai baju, tapi membawa statement, cerita, dan rasa memiliki,” jelasnya.
Setiap produk dirancang bukan untuk sekadar mengikuti tren musiman, melainkan untuk bertahan secara fungsi, daya pakai, dan makna. Filosofi ini pula yang tercermin dalam strategi harga Rawtype Riot.
“Harga kami merepresentasikan material, proses produksi, dan konsep desain secara menyeluruh. Value itu bukan hanya angka, tapi pengalaman dan karakter yang menyertainya,” kata Decky.
Jujur, Lugas, dan Dekat dengan Realita
“Kami percaya kejujuran visual dan cerita jauh lebih tahan lama. Kami bicara sesuai realitas audiens kami,” tambahnya.
Pendekatan ini terasa relevan dengan akar Rawtype Riot yang tumbuh bersama komunitas. Mulai dari motor kustom, kreator, hingga street culture, komunitas bukan sekadar target pasar, melainkan bagian dari ekosistem.
“Mereka bukan cuma konsumen. Feedback dan interaksi komunitas adalah bahan bakar utama kami untuk berkembang,” ujar Decky.
Baca Juga: 7Gear, Apparel Rider Enthusiast yang Cocok Buat Touring, Adventure Hingga Offroad
Local Pride sebagai Kekuatan Global
Di saat banyak brand lokal merasa harus 'menjadi luar' untuk diakui, Rawtype Riot justru mengambil sikap sebaliknya.
Local pride tidak dianggap sebagai batasan, melainkan kekuatan.
“Selama kualitas dan identitas dijaga, produk lokal bisa berdiri sejajar dengan brand internasional. Kami ingin membuktikan bahwa karya lokal bisa bicara lebih luas tanpa kehilangan akar,” tutup Decky.
Rawtype Riot hari ini bukan hanya brand apparel, tapi representasi semangat otomotif dan kustom kulture Indonesia keras, jujur, dan berani.
Sebuah pengingat bahwa dari bengkel, jalanan, dan komunitas, brand lokal bisa lahir dan melaju jauh ke level global.