Lay Out Menggoda Buat Rebah? Ahli Safety Ingatkan Bahaya Cornering di Trek Pegunungan

Dida Argadea - Jumat, 2 Januari 2026 | 18:30 WIB

Ilustrasi jalur pegunungan (Dida Argadea - )

GridOto.com - Bagi banyak pengendara motor, melintasi jalanan berkelok yang biasa ada di pegunungan sering kali memancing adrenalin untuk mencoba teknik cornering atau "gaya miring" layaknya pembalap di sirkuit.

Padahal perlu diingat bahwa jalan raya bukan lintasan balap, sehingga cornering adalah tindakan berbahaya kalau ditinjau dari sisi safety.

Oke Desiyanto, Senior Instructor Safety Riding Astra Motor Jateng, menegaskan cornering bukan jadi tolok ukur seberapa orang bisa menguasai sebuah tikungan.

Menurut dia, menguasai tikungan bukan soal seberapa miring motor, melainkan tentang kecerdasan mengelola kecepatan dan pengereman.

Apalagi di jalur pegunungan umumya bersifat blind corner, di mana kita tidak bisa melihat apa yang ada di balik belokan tersebut.

"Aturan emasnya adalah selalu gunakan prinsip Slow In, Fast Out. Kurangi kecepatan secara signifikan sebelum masuk ke tikungan," buka Oke dalam keterangan resminya.

"Kecepatan yang ideal adalah kondisi di mana Anda masih mampu melakukan pengereman total jika tiba-tiba ada bahaya di depan mata," tambahnya.

Selain itu posisi cornering yang terlalu rebah juga ia sebut mengundang bahaya.

Masih menurut Oke, permukaan aspal di trek pegunungan sangat tidak bisa diprediksi dan rentan dengan adanya pasir, genangan air atau tanah yang licin.

Baca Juga: Macam Teknik Menikung Dalam Sejarah MotoGP, Sekarang Ekstrem Banget

"Tikungan di pegunungan juga memiliki kemiringan jalan (camber) yang tidak terduga, sehingga bisa menghilangkan traksi ban secara tiba-tiba jika Anda terlalu nekat bermanuver miring" ungkap Oke.

Lebih jauh Oke mengingatkan untuk selalu melakukan teknik pengereman yang benar.

Melakukan pengereman mendadak saat motor sedang miring akan memicu stand up effect, di mana motor akan tegak kembali secara otomatis dan meluncur keluar jalur.

Oke menjelakan bahwa pengereman harus dilakukan dengan proporsional (70 persen depan, 30 belakang belakang) saat posisi motor masih lurus sebelum masuk tikungan.

Jika butuh koreksi kecil saat di tengah tikungan, gunakan trailing brake atau rem belakang secara sangat tipis untuk menjaga kestabilan.

"Riding di pegunungan adalah ujian sesungguhnya dari kematangan seorang pengendara.

Pegunungan bukan sirkuit, dan nyawa jauh lebih berharga daripada sensasi rebah maksimal.

Ingatlah selalu, riding yang smart adalah riding yang kembali utuh sampai di rumah," tandasnya.