Siap-siap, Puluhan Ribu Karyawan Nissan Bakal Kena PHK, Buntut Kerugian Tembus Rp 76 Triliun

Naufal Nur Aziz Effendi - Sabtu, 24 Mei 2025 | 11:30 WIB

Nissan bakal PHK 20 ribu karyawan dan menutup 7 pabrik usai mengalami kerugian Rp 76 triliun

Kemudian, perusahan berupaya untuk mengurangi biaya rata-rata per jam tenaga kerjanya sebesar 20 persen dan memangkas kompleksitas suku cadang sebesar 70 persen.

Selain itu, produsen mobil Jepang ini berencana untuk mengurangi jumlah platform yang digunakannya dari 13 menjadi 7 pada tahun fiskal 2035.

Mereka juga bertujuan untuk mempersingkat waktu pengembangan (Research and Development) untuk model-model yang akan meluncur.

Sebelumnya, pengembangan model baru membutuhkan waktu setidaknya 4 tahun, namun dalam rencana Re:Nissan, dipangkas menjadi 30-37 bulan saja.

Beberapa model baru Nissan tersebut yang masih dalam pengembangan adalah Skyline generasi mendatang, SUV global segmen C, dan Compact SUV dari brand Infiniti.

Nissan juga akan menutup 7 dari 17 pabrik produksinya pada tahun fiskal 2027 dan telah membatalkan rencana pembangunan pabrik baterai litium-besi fosfat di Kyushu, Jepang.

Nissan Global
Ivan Espinosa, Presiden dan CEO Nissan yang akan memimpin langsung rencana Re:Nissan

Perubahan tidak berhenti di situ, perusahaan ini turut melakukan relokasi pada 3.000 karyawannya untuk fokus pada inisiatif pengurangan biaya.

Nissan juga memperkenalkan model tata kelola baru, termasuk kantor khusus yang diisi oleh 300 ahli yang ditugaskan semata-mata untuk membuat keputusan terkait biaya.

Dalam hal produk, Nissan ingin menyesuaikan strateginya dengan kebutuhan spesifik pasar yang berbeda.

Perusahaan ini sangat berfokus pada Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Eropa, Timur Tengah, dan Meksiko.

Di pasar Amerika Serikat, perusahaan akan memfokuskan penjualan pada model hibrida dan perombakan merek Infiniti.

Sementara itu, di Tiongkok, Nissan berencana untuk terus maju dengan NEV (New Energy Vehicle).

Lalu di Eropa, merek ini akan menargetkan SUV segmen B dan C. Sementara di Timur Tengah, penjualan Big SUV masih menjadi prioritas.

YANG LAINNYA