Nostalgia Mencoba Underbone 2-Tak Paling Ganas di 1998, Tunggangan Dewa Road Race Nih!

Dimas Pradopo - Kamis, 1 Februari 2018 | 14:06 WIB

Ini bukan Hendriansyah, tapi tester OTOMOTIF yang menjajal sendiri membawa tunggangan sang dewa road (Dimas Pradopo - )


GridOto.com - Ingatan tim GridOto langsung tajam ketika melihat motor berwarna oranye-hitam ini di tumpukan file tim dokumentasi OTOMOTIF Group, Kompas-Gramedia.  

Mari nostalgia bersama motor balap underbone legendaris yang satu ini.

Minggu siang itu akhir Maret 1998, ribuan pasang mata nyaris tak berkedip menonton aksi Hendriansyah, di Kemayoran.

Di atas Yamaha F1-ZR lansiran 1996, pembalap tim Yamaha asal Yogyakarta itu seperti melaju tanpa lawan di kelas bebek tune-up 110 cc.

Ya, anak Yogyakarta itu menjadi raja Kemayoran (seeded B). "Motornya sangat kenceng," argumen penonton di dekat garis finish.

Sementara yang lain bilang, kemampuan pembalap yang akrab disapa Hendri inilah yang membuatnya digdaya.

Mana yang benar? Mari kita lihat!

Motor ini ternyata diracik di Jepang, hal ini diceritakan Chandra Baharudin yang saat itu menjadi mekanik tim Yamaha.

Ia mengisahkan, proyek motor ini berjalan cukup panjang. "Kami kirim motor berikut spesifikasi balapnya ke Daytona Jepang," terangnya.

Begitu datang, dua perubahan utama dilakukan spesialis tuner Negeri Sakura itu.

Yaitu sistem kelistrikan dan peningkatan suplai bahan bakar.

Sistem kelistrikan untuk tiga trek berbeda


Cara pertama, sepul magnetnya dilengkapi 3 kabel dengan karakteristik kurva peak
power berbeda.

Untuk trek pendek, banyak tikungan membulat atau untuk sirkuit panjang. "Tinggal pilih satu kabel," jelasnya.

Arena Kemayoran tergolong sirkuit pendek. Makanya, tenaga benar-benar keluar baru pada rpm 6.000.

Bandingkan dengan Sentul yang baru melejit pada 8.000 rpm.

Kondisi ini cukup merepotkan, lantaran memaksa sering bermain setengah kopling
untuk mencapai putaran segitu.

Akibatnya, kampas kopling sering terbakar. "Sampai babak semifinal, sudah makan dua kampas kopling," ujar Hendri saat balapan

Tapi, bagaimana tidak bertenaga bila perbandingan kompresinya mencapai 7,1 : 1, sementara racikan motor sebelumnya 6,9.

Selain lubang silinder blok dibesarkan, Chandra percaya, rancangan aliran udara berperan besar.
Dokumentasi OTOMOTIF Group
Ada corong untuk memberikan suplai udara segar ke karburator

Mirip sistem turbo, dibuatkan corong udara ke kotak saringan udara.

Dari situ, kotak dipasangi dua nipel; satu ke manifold, satunya ke tangki bensin dengan sebelumnya melewati kotak udara kedua.

Sehingga, baik dari karburator maupun tangki, bensin di dorong udara.

Pokoknya, sebelum mencapai 13.500 rpm, tenaga motor berkarburator Keihin 24 mm itu masih ada.
Dokumentasi OTOMOTIF Group
Mengoptimalkan aliran udara

Dari sisi mesin memang sangat bertenaga, bagaiman dengan ridernya?

Untuk 'meluruskan' mana yang lebih berperan pada kemenangan Hendri yang sempat menyandang gelar Dewa Road Race ini, OTOMOTIF berkesempatan menjajal motor racikan Jepang itu di arena yang sama, sehari setelah lomba.

Setting mesin dan sproket dibiarkan seperti ketika digeber Hendri.

Sekurangnya perlu dua lap membiasakan diri dengan posisi duduk dan memindah persneling yang semuanya dicungkil.

Kepakeman rem dan semua perangkat dicoba, sekalian menghafal sirkuit.

Masuk putaran ketiga, gaya Hendri berbelok ke kanan setelah garis start coba dipraktekkan.

Ternyata tak gampang merebahkan motor sembari pertahankan putaran mesin sekitar 7.000 rpm pada gigi 3.

Namun jangan disangka mudah mengangkat roda depan, seperti gaya Hendri melewati garis finis. Ketika pertama dijajal gagal.

Malah, tester OTOMOTIF jumpalitan karena kelebihan power. Sedangkan upaya kedua dan seterusnya mulus.

Eksploitasi meniru gaya Hendri juga dilakukan di beberapa tikungan parabola ke arah kiri.

Meski ban beda merek, depan Dunlop Sportmax dan belakang menggunakan Bridgestone Battlax, rasanya tak jadi soal.

Taburan kerikil lembut di permukaan aspal, memang mengurangi cengkeram. Tapi dengan mengurangi bukaan gas, arah motor kembali normal.

Bisa jadi, lantaran sokbreker belakang menggunakan Daytona Showa dan stabilisator depan bermerek sama.

Bedanya dengan Hendri, Ia justru memanfaatkan ban belakang bergeser untuk memperkecil radius bebelok. Itu sulit!

Sekali-sekali OTOMOTIF mencoba manuver itu, belum berhasil.

Lantaran itu, kurang bijaksana memilah mana yang lebih berperan atas kemenangan Hendri.

Mustahil motor itu meraja di tangan pembalap pas-pasan.

Paduan yang ganas di eranya, ya 1998 di Kemayoran!

urtike ini sudah dipublikasikan Tabloid OTOMOTIF dengan judul MERASAKAN TUNGGANGAN RAJA KEMAYORAN pada edisi N0.47/VII SENIN 06 APRIL 1998

Dokumentasi OTOMOTIF Group
Yamaha F1-ZR Daytona tahun 1998, salah satu yang paling ditakuti saat itu