Prabowo Harap Petani Punya Motor Listrik, Pakar Sebut Infrastruktur Desa Harus Siap Dulu

By , Senin, 20 Juli 2026 | 15:00 WIB

Ilustrasi motor listrik (Isal/GridOto.com )

GridOto.com - Belum lama ini Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia akan segera memiliki motor listrik nasional yang bakal diperkenalkan dalam beberapa pekan mendatang.

Prabowo juga berharap setiap petani di Indonesia nantinya bisa memiliki motor listrik sebagai sarana mobilitas sehari-hari.

“Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor. Motor listrik,” kata Prabowo, saat menghadiri Panen Raya Bersama TNI di Lanud Abdul Rachman Saleh, Malang, Jumat (17/7/2026).

Pernyataan Presiden yang berharap para petani minimal menggunakan motor listrik memunculkan pertanyaan, apakah motor listrik memang sudah jadi kebutuhan mendesak untuk petani?

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai pernyataan tersebut tidak tepat dibaca sebagai asumsi bahwa petani saat ini membutuhkan motor listrik.

“Pernyataan Presiden bahwa diharapkan para petani minimal naik motor listrik, lebih tepat dibaca sebagai sebuah pesan khusus kepada para pembantu presiden, untuk segera melakukan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian energi hingga ke level motor pertumbuhan ketahanan pangan kita, yakni para petani,” ujar Martin melansir Kompas.com (18/7/2026).

Menurutnya, pesan tersebut lebih ditujukan kepada jajaran pemerintah agar pembangunan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya berpusat di kota-kota besar.

Baca Juga: Optimis Jadi Negara Makmur, Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Buatan Anak Bangsa

Martin menegaskan, kesiapan ekosistem motor listrik harus menjangkau wilayah perdesaan.

Artinya, pemerintah perlu memastikan infrastruktur listrik rumah tangga di desa memadai untuk mendukung pengisian daya kendaraan listrik.

Selain itu, layanan purnajual juga harus tersedia di daerah perdesaan agar petani tidak kesulitan ketika kendaraan mengalami kerusakan.

“Dan harus ada skema pembiayaan yang kompetitif,” kata Martin.