GridOto.com - Cerita menyentuh hati datang dari para guru Sekolah Dasar (SD) di kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Para guru SD Negeri Bener 01 di kecamatan Tengaran, kabupaten Semarang patungan hingga terkumpul uang Rp 20 juta lalu dibelikan angkot buat para siswa.
Angkot berbasis Suzuki Carry Futura itu difungsikan sebagai armada antar pulang siswa dan siswi.
Saat ini tugas antar jemput itu dipegang Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan (PJOK), Gani Prasasti.
Gani harus beralih peran menjadi sopir mobil pengantar siswa pulang.
Setiap hari, ada 15 hingga 20 siswa yang dia antar ke beberapa titik pemberhentian.
"Ada rute yang telah ditentukan untuk dilewati, paling jauh sekitar tiga kilometer, itu dua siswa pindahan. Di setiap dusun di Desa Bener ada tiga sampai empat titik turun para siswa," ujarnya saat ditemui, (16/7/26) melansir Kompas.com.
Langkah nyata itu diambil sekolah demi memastikan keamanan anak-anak saat kembali ke rumah masing-masing, mengingat letak sekolah yang rawan kecelakaan lalu lintas.
"Ini bagian dari fasilitas dan menjamin siswa yang pulang sekolah aman dan selamat sampai rumah. Alhamdulillah tidak pernah ada komplain dari orang tua karena mereka malah sangat terbantu dengan adanya mobil pengantar ini," beber Gani.
Gani mengungkapkan, mobil pengantar siswa SD Negeri Bener 01 ini mulai beroperasi sejak Juni 2026, tepat sebelum libur awal tahun pelajaran baru.
Baca Juga: Guru Honorer Sambut Wacana Hibah Motor Listrik BGN, Tapi Minta Spek Disesuaikan
Meski mengaku tidak ada masalah berarti selama menjadi sopir dadakan, Gani sempat terkendala menghafal titik antar yang dekat dengan rumah para siswa.
Oleh itu, dia membutuhkan pendamping.
"Saya akhirnya dibantu Wali Kelas I, yang sama-sama pukul 10.00 WIB, telah selesai mengajar dan bisa mengantar sekolah. Termasuk juga dari penjaga sekolah yang sering membantu," terang Gani menambahkan.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri Bener 01, Sugiyatno, menyampaikan armada pengantar tersebut dari awal bentuknya memang merupakan kendaraan angkutan umum atau angkot.
"Dibeli total Rp 20 juta, termasuk memasang stiker di bodi mobil dan perawatan, dari gotong royong guru," ujarnya merinci anggaran.
Fasilitas unik ini lahir murni dari rasa kepedulian para tenaga pendidik setempat yang rela menyisihkan pendapatan pribadi mereka.
"Mobil tersebut dibeli secara cash, uangnya dari patungan guru-guru, termasuk juga ada yang dari koperasi simpan pinjam, nanti mengangsurnya ke koperasi. Semua dilakukan secara sukarela dan ikhlas," beber Sugiyatno.
Menurutnya, ide pengadaan mobil ini berawal dari survei internal yang dilakukan pihak sekolah satu tahun lalu.
Saat itu, pihak sekolah mendapati fakta banyak orang tua murid yang hanya bisa mengantar ke sekolah saat pagi hari, namun kelabakan kala harus menjemput anak mereka siang harinya.
"Orang tua bekerja jadi tidak bisa menjemput, karena itu kita berkomitmen mengantar siswa pulang dengan mobil tersebut," tutur Sugiyatno.
Baca Juga: Kisah Ibu Guru Dengan Vespa 2-Tak, Berawal Dari Kenangan Bapak
Namun, pihak sekolah memberikan batasan terkait operasional armada angkutan mandiri tersebut.
"Namun kami tegaskan hanya bisa mengantar pulang, kalau menjemput untuk ke sekolah tidak bisa. Ini karena memang keterbatasan sumber daya yang ada," paparnya.
Meski setiap hari setia mengantar siswa pulang, pihak sekolah sama sekali tidak mematok tarif komersial.
Para siswa yang memanfaatkan jasa mobil antar ini cukup membayar seikhlasnya sebagai wujud gotong royong.
Setiap akan naik ke atas mobil, mereka secara mandiri mengisi kotak dana di dekat pintu.
Menurut Sugiyatno, uang yang terkumpul dari siswa sepenuhnya digunakan kembali untuk membeli BBM operasional mobil.
"Kan sifatnya memang tidak memaksa, hari ini naik, besok tidak naik, juga tidak masalah. Mengisi Rp 1.000 atau Rp 2.000 juga tergantung siswa," ujarnya.
Sugiyatno mengatakan, selain menjadi bentuk pelayanan prima dan solusi bagi orang tua yang sibuk bekerja, keberadaan mobil antar ini membuat keselamatan siswa lebih terjamin.
Pasalnya, gedung sekolah tersebut tepat berada di tepi jalur arteri Jalan Raya Semarang-Solo yang selalu padat dan ramai kendaraan bertonase besar.
Manfaat ini dirasakan langsung oleh Meila Mumtaza Wahyuni, siswa Kelas IV SD Negeri Bener 01.
Ia mengaku sangat senang dan menikmati fasilitas antar pulang gratis dari gurunya tersebut.
"Selain lebih aman, juga seru karena di mobil bisa ngobrol dengan teman. Kalau naik, saya bayar Rp 2.000," katanya ceria.