"Kami bukan hanya sebagai distributor, tapi juga kami di-support oleh manufacturer dan juga supplier. Kami berdiskusi dengan mereka, terus bagaimana bisa mengurangi impact terhadap kenaikan eksternal ini," katanya.
Menurut Bansar, produksi kendaraan melibatkan banyak pihak sehingga penanganan dampak pelemahan rupiah juga harus dilakukan secara kolektif.
"Kita tidak bisa bekerja sendiri. Karena membuat kendaraan itu pastinya dibutuhkan satu rangkaian produksi, dari supplier tier 3 sampai tier 1, sampai manufacturer, sampai ke kita, sampai pun ke dealer. Jadi kita satu sebagai Toyota Indonesia untuk mengurangi impact tersebut," ujarnya.
Baca Juga: Dolar AS Tembus Rp 17.500, Toyota Masih Coba Jaga Harga Mobil
NAIK HARGA POTENSI PENURUNAN PENJUALAN
Menjaga harga jual terkait dengan penjualan kendaraan.
Hal ini dikatakan Dr. Riyanto, peneliti LPEM FEB Universitas Indonesia. Dr. Riyanto, peneliti LPEM Fakultas Ekonomi Bisnis UI menyebutkan ada faktor risiko turunnya penjualan ketika harga naik.
"Dengan asumsi semua faktor lain dianggap sama atau konstan. Untuk di industri otomotif price-nya -1," jelas Dr. Riyanto.
Maksudnya, jika ada kenaikan harga sebesar 1 persen, maka demand-nya juga akan turun sebesar kenaikan.
Jadi, menurut Dr. Riyanto kalau harga naik misalnya sebesar 2 persen, maka potensi kehilangan permintaan pasar akan turun sebanyak 2 persen.
Ini tentu yang dijaga oleh produsen, apalagi dikaitkan dengan segmentasi konsumen seperti di Daihatsu, yang merupakan pembeli pertama dengan kemampuan daya beli yang rentan.
Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 02-XXXVI 21 Mei 2026