Menurutnya, volume yang dikirim terkadang lebih kecil daripada permintaan pengelola SPBU.
"SPBU minta BBM Pertalite 24.000 liter, tapi (cuma,-red) dikirim 8.000 liter. Dijatah sama Pertamina," tutur AMT tersebut.
"Ibaratnya kalau kelen (kalian,-red) mau minyak, kelen beli BBM Pertamax. Jadi Pertamax dibeli masyarakat mau enggak mau, walaupun mahal. Ini permainan jahat. Kalau sebelumnya enggak pernah gitu. Tahun lalu enggak gitu," ungkapnya.
Tap perli digarisbawahi, tudingan pengurangan jatah Pertalite sengaja dilakukan untuk mendorong konsumen membeli Pertamax belum didukung data terbuka ataupun hasil pemeriksaan resmi.
Dalam keterangan terpisah, Pertamina justru menyatakan volume penyaluran telah ditingkatkan untuk memulihkan persediaan di SPBU.
Sunardi mengatakan, hingga Selasa malam, (14/7/26) pengiriman BBM ke SPBU mencapai sekitar 6.000 kiloliter.
Angka itu lebih tinggi daripada rata-rata kondisi normal yang disebut sekitar 5.400 kiloliter per hari.
"Per tadi malam juga, kita sudah melakukan delivery ke SPBU kurang lebih ada 6.000 KL. Dari kondisi normal 5.400, jadi ada kenaikan kurang lebih 40 persen. Ini untuk upaya kami merecovery stok yang ada di SPBU," ujarnya.
Baca Juga: Kasus Fraud Terungkap, Pertamina PHK Awak Truk Tangki BBM di Tuban
Berdasarkan angka tersebut, selisih antara 5.400 kiloliter dan 6.000 kiloliter adalah sekitar 11 persen.
Namun, Pertamina dalam pernyataannya menyebut kenaikannya kurang lebih 40 persen.
Pertamina memastikan persediaan BBM di Fuel Terminal Medan berada dalam kondisi aman.
Stok Pertalite disebut mencukupi kebutuhan selama 16 hari.