GridOto.com - Harga minyak dunia berakhir melemah pada perdagangan Jumat (10/7/2026) waktu setempat.
Minyak mentah Brent ditutup di level 76,01 dollar AS per barel atau turun 29 sen (0,38 persen).
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di harga 71,41 dollar AS per barel, terkoreksi 67 sen atau 0,93 persen.
Penurunan harga terjadi seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan segera kembali normal setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mereda.
Harapan akan dimulainya kembali perundingan antara kedua negara pada pekan depan juga memperkuat keyakinan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut akan kembali beroperasi sepenuhnya.
Mitra Again Capital, John Kilduff, mengatakan pasar saat ini sangat peka terhadap perkembangan situasi. Menurutnya, investor menyambut positif setiap kabar yang menunjukkan tidak adanya eskalasi konflik baru.
"Pasar siap menyambut kabar baik, atau setidaknya tidak adanya kabar buruk. Dan tampaknya eskalasi konflik tidak akan menjadi lebih buruk," ujar Kilduff melansir dari Reuters.
Pandangan serupa disampaikan analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Baca Juga: Harga Plastik dan Minyak Dunia Naik, Produk Cat Otomotif Ikut Terkerek
Ia menilai penurunan harga minyak, meski Selat Hormuz masih mengalami gangguan, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap kemampuan AS menjaga jalur pelayaran tersebut tetap terbuka.
"Yang menarik, harga minyak justru turun setelah sempat melonjak mendekati 76 dollar AS per barrel, meski Selat Hormuz secara efektif ditutup kembali. Hal itu didorong keyakinan bahwa kekuatan militer AS tidak akan membiarkan selat tersebut ditutup dalam waktu lama," kata Flynn.
Meski melemah pada akhir pekan, harga minyak secara mingguan masih mencatat kenaikan. Brent menguat sekitar 5,5 persen dibandingkan pekan sebelumnya, sedangkan WTI naik hampir 4 persen.
Kenaikan harga sempat terpangkas setelah Reuters melaporkan bahwa negosiator Qatar berada di Iran untuk bertemu dengan para pejabat setempat.
Pertemuan tersebut bertujuan meredakan ketegangan sekaligus membuka peluang dimulainya negosiasi yang lebih luas.
Sebelumnya, pada Kamis, militer Iran melancarkan serangan ke fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk.
Serangan itu merupakan balasan atas aksi militer AS yang menyasar wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meledak Lagi, Imbas Kebijakan Selat Hormuz Antara AS-Iran Buntu
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dapat mengganggu proyeksi surplus pasokan minyak global pada tahun depan.
Konflik tersebut juga membuat pembukaan penuh Selat Hormuz kembali tertunda. Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari melewati jalur tersebut.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) mulai kembali melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, volume lalu lintas harian masih berada di bawah tingkat normal sebelum konflik berlangsung.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak memperkirakan perang akan kembali terjadi. Ia juga meyakini bahwa jika konflik kembali pecah, situasinya tidak akan berlangsung lama dan dapat segera diselesaikan.