Kenaikan harga sempat terpangkas setelah Reuters melaporkan bahwa negosiator Qatar berada di Iran untuk bertemu dengan para pejabat setempat.
Pertemuan tersebut bertujuan meredakan ketegangan sekaligus membuka peluang dimulainya negosiasi yang lebih luas.
Sebelumnya, pada Kamis, militer Iran melancarkan serangan ke fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk.
Serangan itu merupakan balasan atas aksi militer AS yang menyasar wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meledak Lagi, Imbas Kebijakan Selat Hormuz Antara AS-Iran Buntu
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) mengingatkan bahwa meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran dapat mengganggu proyeksi surplus pasokan minyak global pada tahun depan.
Konflik tersebut juga membuat pembukaan penuh Selat Hormuz kembali tertunda. Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari melewati jalur tersebut.
Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah kapal tanker gas alam cair (LNG) mulai kembali melintasi Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, volume lalu lintas harian masih berada di bawah tingkat normal sebelum konflik berlangsung.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan dirinya tidak memperkirakan perang akan kembali terjadi. Ia juga meyakini bahwa jika konflik kembali pecah, situasinya tidak akan berlangsung lama dan dapat segera diselesaikan.