Ketika baterai hybrid yang berkapasitas 0,7 kWh itu menipis, mesin menyala untuk melakukan 2 hal yakni menjalankan mobil dan menggerakkan motor generator yang mengisi baterai.
Tapi yang juga meringankan mesin adalah skema brake energy regenerative. Ketika mobil meluncur atau mengerem, energi yang muncul dialihkan untuk mengisi baterai sehingga pengisian baterai tidak tergantung pada menyalanya mesin saja.
Lalu saat pengemudi butuh semua sumber tenaga semisal untuk menyalip kencang atau menanjak dengan beban penuh, mesin dan motor bekerja sama memberikan output terbaik.
Baca Juga: Pasar Mobil Baru Memanas, Brand Cina Hadapi Barisan Sang Penguasa
Hasilnya, kehematan konsumsi energi di kecepatan rendah-sedang berpadu iritnya konsumsi BBM di kecepatan sedang-tinggi membuat Toyota Veloz Hybrid mencapai titik yang tak pernah diraih Small MPV manapun sebelumnya.
Di rute Dalam Kota dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam, Toyota Veloz Hybrid mendapat 28,9 km/l.
Dibanding semua Small MPV seperti Mitsubishi Xpander, Suzuki Ertiga, Hyundai Stargazer, hingga Nissan Livina, Toyota Veloz Hybrid-lah yang paling irit.
Lalu di rute Tol, Toyota Veloz Hybrid mencetak 19,5 km/l. Tetap lebih irit dari Toyota Veloz bensin di generasi sebelum hybrid.
Lebih jauh, saat kami uji di rute Kombinasi dengan average speed 50 km/jam, efisiensi Toyota Veloz Hybrid mencapai 35,5 km/l. Wow!
Jika menilik dari sumber tenaganya, Toyota Veloz Hybrid memang sangat potensial.
Dulu Toyota Veloz bensin hanya andalkan mesin 2NR-VE 1.496 cc 4 silinder yang bertenaga 106 dk/6.000 rpm dan torsi 137,2 Nm/4.200 rpm.
Sedangkan di Toyota Veloz Hybrid, sedari awal mesin 2NR-VEX bersiklus Atkinson itu memang berorientasi pada kehematan bahan bakar.