Anggapan bahwa tol selalu lebih cepat pun dinilai sering berujung sebaliknya.
Rest area yang dirancang untuk kondisi normal kerap kewalahan saat arus mudik memuncak, bahkan memicu parkir darurat di bahu jalan yang berisiko tinggi.
Karena itu, solusi kemacetan Lebaran 2026 dinilai bukan sekadar menambah ruas tol, melainkan meningkatkan kualitas dan keamanan jalan arteri agar layak menjadi alternatif.
Jalur Pantura maupun Jalur Pansel sebenarnya berpotensi menjadi pilihan rasional jika didukung penerangan memadai, rambu yang konsisten, serta penertiban pasar tumpah.
Baca Juga: SKB Lalu Lintas Arus Mudik Lebaran 2026, Berikut Lokasi dan Jadwal One Way Sampai Ganjil Genap
Keberadaan Tol Cisumdawu memang membantu mengurangi beban Cipali dan Cipularang. Namun tanpa konektivitas utara-selatan yang optimal, seperti penyelesaian Tol Bocimi dan Cigatas, jalur arteri tetap memegang peranan penting.
Djoko juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan, mengacu pada tragedi KM 58 pada 2024 yang menewaskan 12 orang akibat kecelakaan di jalur contraflow.
Ia menilai pembatas jalan perlu dipasang lebih rapat, dari sebelumnya berjarak 30 meter menjadi 10 meter, guna meminimalkan risiko kecelakaan.
Selain itu, kebijakan one way perlu dievaluasi secara objektif agar tidak menghambat operasional bus antarkota yang harus kembali ke Jakarta untuk mengangkut gelombang pemudik berikutnya.
Pasalnya, sekitar 23,34 juta orang mengandalkan moda bus untuk perjalanan mudik mereka.