Selain itu, transmisi AGS tidak bikin capek bagi saya, seperti halnya ketika saya menggunakan mobil bertransmisi manual.
Saat perpindahan gigi, saya tidak direpotkan lagi dengan urusan injak pedal kopling lagi. Kaki kiri saya pun nganggur, hanya kaki kanan saja yang berurusan dengan pedal rem dan gas selama perjalanan.
Begitu pula saat melintasi kemacetan yang mengharuskan ‘stop and go’ seperti saat mengantri di gerbang tol, kaki kanan saya tinggal mainkan gas dan rem saja secara bergantian.
Transmisi AGS yang menempel pada Suzuki Ignis GL ini menggunakan 5 tingkat percepatan.
Perpindahan gigi diatur secara otomatis berdasarkan pada kecepatan dan putaran mesin.
Memang agak sedikit terasa saat perpindahan giginya, bagi saya rasanya unik, ada semacam hentakan lembut sedikit mengayun.
Biasanya terjadi ketika putaran mesin menjelang 2.000 rpm.
Saya mengakalinya dengan mengangkat sedikit kaki kanan saya, pedal gas saya lepas sebentar menjelang angka 2.000 rpm.
Ketika perlu bermanuver lebih, seperti hendak menyalip kendaraan lainnya, saya cukup tekan pedal gas lebih dalam.
Secara otomotis, terjadi perpindahan gigi D5 ke posisi lebih rendah, sehingga putaran mesin akan meningkat seiring dengan pertambahan tenaga yang dibutuhkan.