Yang beroperasi adalah bus-bus tahun muda. Sementara armada tahun tua alias sepuh banyak parkir.
Langkah memarkir bus tahun tua itu dilakukan agar perusahaan tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi.
“Bukan berhenti total, tapi armada itu sementara kami istirahatkan dulu supaya biaya operasional tidak membengkak,” ujarnya.
Selain dampak kurs rupiah, Tina menilai menurunnya aktivitas wisata dan kegiatan rombongan sekolah turut mempengaruhi pendapatan pengusaha bus pariwisata.
Ia berharap pemerintah dapat memberikan stimulus atau kebijakan yang meringankan beban pelaku usaha transportasi, seperti keringanan pajak kendaraan umum, penurunan harga BBM industri, hingga insentif untuk suku cadang kendaraan.
“Kalau tidak ada langkah konkret, banyak pengusaha bus yang kesulitan bertahan. Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah,” tuturnya.
Ia menambahkan, para pengusaha bus pariwisata di daerah kini hanya bisa bertahan sambil menunggu kondisi ekonomi kembali membaik dan daya beli masyarakat pulih.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR