GridOto.com - Belum lama ini ramai kejadian main hakim sendiri yang menyasar Toyota Fortuner hitam yang dituduh melakukan tabrak lari.
Padahal, usut punya usut setelah ditelusuri pihak kepolisian, narasi tabrak lari tersebut sama sekali tidak benar alias salah paham yang berujung provokasi.
Insiden ini bermula dari perseteruan ruang jalan antara pengemudi Fortuner berinisial ES (44) dengan seorang pengendara motor.
Atmosfer di lokasi kejadian mendadak memanas ketika dua pengendara motor lainnya tiba-tiba datang dan langsung menghadang laju mobil ES.
Merasa jalannya dihalangi, ES mengaku sempat melontarkan makian sampai memicu cekcok mulut yang lebih hebat di pinggir jalan.
Berdasarkan pengakuan ES saat diperiksa polisi, salah satu pengendara motor diduga sengaja menabrakkan diri ke bodi mobil.
Tindakan tersebut disinyalir sebagai bentuk provokasi untuk memancing amarah.
Baca Juga: Fortuner Hitam Dikepung Massa di Tanah Abang, Sopir Tak Bisa Diajak Bicara
Situasi kian tidak terkendali saat pengendara motor yang terlibat cekcok mulai mengejar mobil yang dikemudikan ES.
Sepanjang jalan, pemotor tersebut berteriak histeris dan menuduh bahwa Fortuner tersebut telah melakukan tabrak lari.
Mendengar teriakan yang provokatif itu, warga sekitar dan pengguna jalan lain yang berada di lokasi langsung tersulut emosinya.
Tanpa mencari tahu kebenaran informasinya terlebih dahulu, massa yang terprovokasi melakukan perusakan terhadap mobil Toyota Fortuner milik ES.
Menurut Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, dalam kondisi tersebut cukup dilematis jika ada di posisi pengemudi Fortuner.
Apakah harus lari ke kantor polisi atau turun dari mobil dan menjelaskan yang sebenarnya.
"Sepertinya kondisinya terjepit ya, maju kena mundur kena. Tapi, paling benar adalah kooperatif, tindakan ini yang paling mudah meredam emosi warga," ujar Sony menukil Kompas.com, belum lama ini.
Baca Juga: Warga Naik Kap Hantam Kaca, Ini Duduk Perkara Toyota Fortuner Diamuk Massa di Tanah Abang
"Terlepas masalah miskomunikasi, jebakan atau kejadian yang sebenarnya, turun dari mobil dan melakukan pertolongan terhadap korban adalah langkah terbaik," kata Sony.
Sony menambahkan, hal tersebut penting untuk dilakukan, karena jika terlambat sedikit, satu suara negatif bisa menyulut beribu massa yang anarkis.
Selanjutnya, biarkan pihak kepolisian yang akan menyelesaikan.
Dia juga menyarankan untuk memasang dashcam sebagai bukti. "Orang-orang kita rata-rata sumbu pendek tanpa tahu masalahnya, miris sih. Dashcam tetap dibutuhkan untuk rekam bukti," ujarnya.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR