Kondisi ini dapat terjadi akibat sistem kelistrikan yang tidak bekerja maksimal karena kemampuan baterai mulai melemah.
Karena itu, pemilik mobil hybrid perlu waspada kalau kendaraan mendadak lebih boros, rem terasa berbeda, atau AC bekerja tidak stabil.
Gejala-gejala tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya penurunan performa baterai yang perlu segera diperiksa lebih lanjut.
Sementara pada mobil listrik murni, tanda kerusakan atau gangguan baterai umumnya lebih mudah dikenali karena langsung berdampak pada performa.
Salah satu gejala yang kerap muncul adalah aktifnya turtle mode atau mode kura-kura.
Saat mode ini aktif, sistem mobil secara otomatis membatasi tenaga yang dikeluarkan untuk melindungi baterai dan komponen kelistrikan lainnya.
Akibatnya, kecepatan mobil dibatasi dan umumnya hanya mampu melaju di kisaran 30 hingga 40 km/jam meskipun pedal akselerator diinjak penuh.
Baca Juga: Pengguna Mobil Hybrid Wajib Tahu, Begini Cara Aman Dipakai Mudik Jarak Jauh
Dalam kondisi tersebut, respons kendaraan akan terasa sangat lambat dibandingkan saat beroperasi normal.
Pembatasan performa ini merupakan bagian dari sistem keamanan yang dirancang untuk mencegah kerusakan yang lebih serius pada baterai.
Apabila mobil listrik tiba-tiba kehilangan tenaga dan tidak mampu mencapai kecepatan normal, pemilik kendaraan disarankan segera melakukan pengecekan di bengkel agar penyebab gangguan dapat diketahui lebih cepat.
Yogig menegaskan, baik pengguna mobil hybrid maupun kendaraan listrik murni tetap perlu melakukan pemeriksaan berkala.
Langkah ini penting untuk memantau kondisi baterai sekaligus mencegah potensi kerusakan yang lebih besar di masa mendatang.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR