Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Ekspor Makin Sulit, Produsen Mobil China Pilih Skema Sewa ke Luar Negeri

Ferdian - Sabtu, 6 Juni 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi Ekspor mobil China
Chery
Ilustrasi Ekspor mobil China

GridOto.com - Pabrikan otomotif asal China mulai mengubah strategi ekspansi global mereka di tengah semakin ketatnya hambatan perdagangan di berbagai negara.

Kalau sebelumnya mengandalkan penjualan langsung kendaraan, kini banyak perusahaan mulai melirik model bisnis sewa kendaraan lintas negara atau cross-border leasing.

Melansir CarNewsChina, langkah ini muncul usai sejumlah pasar menerapkan tarif impor yang lebih tinggi, aturan kandungan lokal yang ketat, hingga berbagai kebijakan yang membuat ekspor kendaraan menjadi lebih sulit.

Berdasarkan data China Passenger Car Association (CPCA), ekspor kendaraan China pada April 2026 mencapai 769.000 unit atau naik 80,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara selama Januari-April 2026, total ekspor kendaraan telah menyentuh 3,127 juta unit.

Menariknya, hampir setengah dari jumlah tersebut berasal dari kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV), termasuk mobil listrik.

Dalam skema ekspor konvensional, produsen langsung menjual kendaraan kepada pembeli di luar negeri dan kepemilikan kendaraan berpindah tangan setelah transaksi selesai.

Namun melalui sistem leasing lintas negara, kepemilikan kendaraan tetap berada di tangan perusahaan asal China.

Baca Juga: Di Tengah Gempuran Mobil China, Suzuki Malah Ngebut Penjualan April 2026 Naik 33 Persen

Pengguna di negara tujuan cukup membayar biaya sewa secara berkala atau mencicil sesuai kontrak yang disepakati.

Model ini dinilai mampu mengubah bisnis ekspor dari sekadar penjualan satu kali menjadi layanan jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan.

Bagi perusahaan, model ini juga memungkinkan mereka mendapatkan insentif pajak ekspor dan menjaga arus kas tetap sehat.

Selain itu, mereka tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk membangun pabrik atau fasilitas produksi di negara tujuan.

Sementara bagi konsumen, biaya untuk memiliki kendaraan menjadi lebih ringan karena tidak perlu membayar penuh di awal.

Hal ini dinilai cocok untuk negara-negara yang sistem pembiayaan otomotifnya masih berkembang.

Selain memperoleh pendapatan dari biaya sewa, perusahaan juga bisa menawarkan layanan tambahan seperti perawatan kendaraan, asuransi, hingga manajemen armada.

Baca Juga: KM 31 Tol Jagorawi Mencekam, BMW Putih Bikin Mobil China Jetour T2 Mental dan Meledak Terbakar

Meski menjanjikan, model bisnis ini tetap memiliki tantangan, terutama terkait pengelolaan aset, penilaian risiko kredit, hingga penarikan kendaraan jika terjadi gagal bayar.

Karena itu, sebagian besar perusahaan saat ini lebih fokus menyasar pelanggan korporasi atau B2B, seperti operator taksi online dan perusahaan penyewaan kendaraan.

Salah satu perusahaan leasing asal China, Huasheng, diketahui telah menjalankan bisnis serupa di Uzbekistan dan Afrika Selatan.

Perusahaan tersebut juga berencana menjadikan Pakistan sebagai pusat pengembangan berikutnya.

Menurut sumber internal yang dikutip National Business Daily, lebih dari 30 pabrikan otomotif China telah menunjukkan minat terhadap model bisnis ini.

Beberapa di antaranya adalah Dongfeng, Chery, GAC, dan BAIC.

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa