"Saya meminta maaf kepada seluruh masyarakat Probolinggo dan kepada kepolisian, khususnya Polres Probolinggo, atas informasi yang tidak benar tersebut. Hasil penjualan sepeda motor itu saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari," tegasnya.
Sebelum skenarionya terbongkar, informasi mengenai pembegalan di Kraksaan ini sempat menyebar cepat dan memicu keresahan publik.
Baca Juga: Begal Motor di Kendal Akting Jadi Polisi, Hukum Bocah Lari Keliling Lapangan Gasak Honda BeAT
Nugroho yang juga dikenal bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waluyo Jati Kraksaan, awalnya diisukan dibegal setelah mengantar istrinya untuk piket malam di rumah sakit tersebut sekitar pukul 22.00 WIB.
Tempat Kejadian Perkara (TKP) rekayasa tersebut berada di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Kraksaan Wetan, tepatnya di sekitar Makam Pahlawan.
Informasi awal dari warga sekitar bahkan menyebutkan korban diadang dan diserang secara brutal.
"Korban ini baru mengantar istrinya, dia pulang dari rumah sakit. Tiba-tiba ada orang yang langsung membacok," kata Fathol Arifin, seorang warga di sekitar TKP saat dimintai keterangan awal.
Arifin menambahkan, warga sempat iba karena Nugroho ditemukan dalam kondisi bersimbah darah di bagian kepala serta lengan, sementara motor Honda BeAT-nya dilaporkan raib dibawa kabur pelaku.
Menanggapi laporan awal tersebut, Kapolsek Kraksaan, Kompol Masykur bersama anggotanya langsung bergerak cepat melakukan olah TKP dan memeriksa Nugroho yang kala itu sedang dirawat di ruang IGD RSUD Waluyo Jati.
Namun, dari hasil pengembangan penyidikan, polisi menemukan banyak kejanggalan hingga akhirnya Nugroho mengakui kebohongannya.
Masykur menyatakan, kasus dugaan pembegalan ini resmi dinyatakan selesai setelah statusnya terbukti sebagai laporan palsu.
"Jadi sudah selesai jika informasi dugaan pembegalan di sekitar makam pahlawan itu tidak benar adanya atau laporan palsu, dan sudah diakui sendiri oleh korban," papar Masykur.
Kendati demikian, pihak kepolisian menyayangkan aksi nekat Nugroho.
Masykur mengimbau keras kepada masyarakat luas agar tidak membuat atau menyebarkan informasi bohong (hoaks) karena dapat merusak kondusifitas wilayah.
"Kami berharap kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Dengan alasan apa pun, cerita bohong seperti ini dapat meresahkan masyarakat dan mengganggu situasi kamtibmas yang selama ini kondusif," tutur Masykur menutup keterangannya.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR