Dalam konstruksi jalan, keberadaan air sangat berpengaruh terhadap ketahanan perkerasan.
Air yang masuk ke lapisan pondasi dapat melemahkan daya dukung tanah sehingga struktur jalan menjadi lebih lunak.
Akibatnya, tekanan dari kendaraan yang melintas, terutama kendaraan berat, mempercepat munculnya retakan, gelombang, hingga lubang di permukaan jalan.
Selain drainase, faktor kemiringan jalan atau slope juga sering luput dari perhatian.
Kondisi ini menyebabkan air hujan tergenang di atas aspal dalam waktu lama.
Genangan yang terus terjadi perlahan mengikis lapisan permukaan aspal dan membuka celah agar air masuk ke bagian bawah konstruksi jalan.
Baca Juga: Sering Dikeluhkan Keras dan Berisik, Ini Alasan Jalan Tol Kini Banyak Dibeton
"Air yang tidak dikontrol melalui sistem drainase yang baik juga dapat menyebabkan kerusakan lebih awal, khususnya jalan dengan perkerasan aspal," ungkap Riski yang juga Dosen Teknik Sipil Universitas Tangerang Raya (Untara) ini.
Saluran air yang tak berfungsi optimal membuat air hujan menggenang di permukaan jalan.
Air yang masuk ke lapisan pondasi dapat melemahkan struktur tanah sehingga aspal lebih cepat retak dan berlubang.
Masalah lain yang disebut memperparah kondisi jalan adalah masih maraknya kendaraan ODOL atau over dimension over loading.
Riski menuturkan, banyak kendaraan berat beroperasi dengan beban yang melampaui kemampuan jalan yang sudah dirancang sebelumnya.
Ketika beban kendaraan terlalu besar, lapisan perkerasan tidak mampu menahan tekanan secara optimal. Dampaknya, jalan menjadi lebih cepat retak, amblas, dan bergelombang.
"Banyak kendaraan-kendaraan berat pengangkut material hasil tambang atau hasil perkebunan yang melebihi kapasitas menyebabkan jalan mengalami kerusakan lebih cepat," kata Riski.
Banyak kendaraan angkutan membawa muatan melebihi kapasitas jalan. Beban berlebih membuat lapisan aspal cepat amblas, retak, dan bergelombang.
Ia menilai, persoalan jalan rusak tidak hanya dipicu oleh faktor teknis di lapangan, tetapi juga berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan proyek, hingga pengawasan konstruksi yang belum optimal.
Kesalahan dalam perencanaan, penggunaan material berkualitas rendah, atau pengerjaan yang tidak sesuai standar dapat membuat umur jalan menjadi lebih pendek.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR