GridOto.com - Anak dalam negeri Indonesia memang luar biasa.
Salah satunya temukan cara baru mengolah bensin dari sawit yang dilakukan peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jawa Timur.
Yakni dilakukan Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS yang mengklaim Bensin Sawit tersebut rendah emisi.
Riset yang didanai oleh Badan pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut dikembangkan oleh Dr. Hosta Ardhyanta bersama tim.
Fokus utamanya adalah mengubah minyak mentah kelapa sawit (CPO) menjadi biogasoline siap pakai, sekaligus menekan residu dari proses produksinya.
"Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan," terang Hosta dilansir dari laman ITS, (9/4/26).
Tim ITS menggunakan metode catalyctic cracking, teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul lebih kecil menggunakan katalis.
Awalnya, katalis yang digunakan berbasis alumina yang berperan sebagai gunting molekuler untuk memecah trigliserida dalam Curde Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan.
Pendekatan tersebut dilakukan agar konversi biogasoline dapat mencapai angka sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.
Pada proses pengembangan berikutnya, tim ITS menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (Nio) dan tembaga oksida (CuO).
Baca Juga: Indonesia Berani, Rencana Stop Impor Solar Fokus Kembangkan Kebun Sawit dan Tebu
Hasilnya, proses produksi menjadi jauh lebih efisien dengan suhu operasi hanya 380 derajat Celcisus.
Sementara rendemen biogasoline yang awalnya 60 persen meningkat menjadi 83 persen.
Yang menarik, inovasi ini tak hanya menghasilkan bensin nabati.
Sebagian produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pemanas reaktor.
Sementara residu cairnya berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi minimal limbah.
"Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor," papar Hosta.
Lebih lanjut, Hosta menerangkan inovasinya dapat didedikasikan untuk kemandirian teknologi Indonesia.
Salah satunya mesin-mesin pertanian yang memiliki fleksibilitas modifikasi yang tinggi.
"Melalui biogasoline sawit ini juga, para petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin yang berasal dari minyak bumi yang harganya fluktuatif," ungkap Hosta.
Ke depan, Hosta ingin terus mengembangkan inovasinya sehingga dapat terimplementasi lebih luas lagi dengan kapasitas produksi yang lebih besar.
Baca Juga: Ambisi Prabowo Hasilkan BBM Nabati, Instruksikan Tanam Sawit di Papua
Dengan demikian, diharapkan dapat menjawab ancaman krisis energi di Indonesia.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi penuh dari Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati.
Ia menyampaika inovasi bensin sawit karya tim ITS bisa membantu pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
"Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini," ujar Bambang.
Sebagai tindak lanjut, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPRM) ITS, Fadlilatul Taufany mengaku akan berkoordinasi dengan pihak Kementerian ESDM agar produk inovasi ini dapat diuji coba sebagai proyek nasional.
"Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor," ungkapnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR