Maka terkait hal tersebut Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) yang juga mempunyai anggota sektor federasi serikat pekerja otomotif Indonesia ingin sampaikan pendapat kritis atas keputusan impor 105.000 unit kendaraan asal India tersebut:
1. Alasan Industri otomotif dalam negeri tidak mampu memproduksinya itu tidak faktual.
Sebagaimana disampaikan Menteri Perindustrian dan Kadin yang lebih paham soal ini menegaskan bahwa Industri otomotif dalam Negeri mampu memproduksi sekitar 1 juta unit kendaraan dalam setahun, setelah melakukan verifikasi kemampuan produksi beberapa pabrik otomotif di Indonesia.
Artinya bahwa Industri otomotif dalam Negeri mampu memproduksinya. Lalu dimana rasa Nasionalisme Dirut PT.Agrinas Pangan Nusantara untuk membangun kemandirian ekonomi kerakyatan dan penciptaan lapangan kerja sekaligus pencegahan PHK?
2. Alasan pemilihan tipe pick up 4x4 dianggap sesuai dengan medan jalan pertanian pedesaan indonesia ini kurang tepat.
Pertanyaannya, apakah selama ini hasil pertanian tidak terangkut karena tidak ada pick up 4x4? Setahu kami selama ini mayoritas alat angkut hasil pertanian adalah kendaraan pick up jenis 4x2 produksi dalam negeri, dan selama ini pula baik-baik saja.
Lalu apa urgensinya harus digeneralisir memakai pick up 4x4? Mungkin iya ada beberapa daerah yg kondisi medanya ektrem sehingga harus memakai kendaraan pick up 4x4, tapi kan harus dipetakan secara akurat di daerah mana saja lalu dihitung berapa kebutuhan unitnya, jangan digeneralisir semua daerah harus pakai pick up 4x4. Yang disampaikan Dirut PT.Agrinas ini kan seolah-olah selama ini hasil-hasil pertanian tidak terangkut karena ketidaktersediaan pick up 4x4.
Baca Juga: Heboh Impor 105 Ribu Pikap Buat Kopdes, Mendag Bilang Begini
3. Dirut PT Agrinas membandingkan harga kendaraan pick up 4x4 dari India lebih murah.
Setahu kami belum ada kendaraan pick up 4x4 yang diproduksi industri dalam negeri (data bisa saling croscek jika kami keliru), lalu kendaraan darimana yang dijadikan pembanding harga dimaksud? Kok bilangnya lebih murah dari harga kendaraan dalam negeri. Dengan demikian dasar hitungan ada efesiensi 43 triliun itu darimana? Justru kalau kita cermati, harga pick up 4x4 scorpio dari India berkisar 290 an juta sampai 400 an juta.
Sedangkan pick up Suzuki Carry produksi dalam negeri berkisar 170 an juta sampai 190 an juta, pick up Daihatsu Gran Max pun harganya tidak jauh dari pick up carry tersebut.
Jadi lebih efesien mana dengan alat angkut yang selama ini sudah berjalan?
Dengan tiga poin di atas, Presiden KSPN, Ristadi sebagai perwakilan KSPN meminta pembatalan impor ratusan ribu unit mobil asal India tersebut.
"Kami meminta Presiden Prabowo perintahkan Dirut PT Agrinas agar membatalkan impor kendaraan niaga operasional Kopdes Merah Putih, dan memesan ke industri otomotif dalam negeri yang sedang dalam kondisi lesu karena berkurangnya order supaya bisa bergairah kembali," tulis Ristadi dalam siaran pers resminya, (24/2/26).
"Manfaat lainya juga untuk mencegah PHK sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan, dengan demikian akhirnya yang mendapat manfaat ekonominya adalah rakyat Indonesia pada umumnya dan pekerja Indonesia pada khususnya, bukan pelaku ekonomi luar negeri." tandasnya.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR