Mibe juga mengatakan pemerintah menyatakan pasokan bahan kimia, selain nafta dan pelumas, masih dalam kondisi aman.
Para analis menilai perang ini bisa memaksa produsen mobil mengubah strategi rantai pasokan mereka dalam jangka panjang.
Tujuannya untuk mengurangi risiko akibat konflik dan penutupan Selat Hormuz.
Sanshiro Fukao, peneliti senior dari Itochu Research Institute, mengatakan gangguan pasokan dan transportasi akibat perang diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu dekat.
"Perusahaan akan mulai memasukkan faktor risiko Timur Tengah ke dalam perencanaan mereka, sehingga alur distribusi barang di masa depan bisa berubah," ujarnya.
Menurut Fukao, kondisi ini dapat mempercepat langkah produsen mobil memperbesar investasi di India dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Baca Juga: Konsumen Cari Mobil Irit, Toyota Akui Penjualan Mobil Hybrid Meningkat
Mereka diperkirakan akan meningkatkan produksi dan ekspor dari India untuk mengurangi risiko dan biaya pengiriman.
Toyota sebelumnya mengumumkan akan membangun pabrik baru di India dengan kapasitas produksi mencapai 100.000 kendaraan per tahun.
Pabrik tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada paruh pertama 2029 dan hasil produksinya akan diekspor ke berbagai negara.
Analis otomotif dari Pelham Smithers Associates, Julie Boote, mengatakan Toyota menjadi produsen yang paling terdampak secara jumlah penjualan karena perusahaan itu paling sukses di pasar Timur Tengah.
Namun, ia menambahkan Toyota masih dapat menahan dampak tersebut karena pasar perusahaan tersebar di berbagai wilayah dunia.