GridOto.com - PT Isuzu Astra Motor Indonesia angkat bicara terkait pernyataan PT Agrinas Pangan Nusantara yang menyebut produsen dalam negeri belum sepenuhnya mampu penuhi kebutuhan kendaraan operasional untuk program Koperasi Desa Merah Putih.
Business Strategy Division Head Isuzu Astra Motor Indonesia, Rian Erlangga, menegaskan kalau pihaknya tak pernah menolak ataupun menyatakan tidak sanggup mendukung program strategis nasional tersebut.
Menurutnya, kendala yang muncul bukan karena Isuzu maupun pihak karoseri tidak bersedia memenuhi permintaan.
Rian menyampaikan bahwa Isuzu terbuka untuk berpartisipasi dalam program tersebut.
Namun, dari sisi perencanaan dan waktu produksi, perusahaan membutuhkan proses yang tidak cepat.
Melansir Kompas.com, ia juga mengonfirmasi bahwa Isuzu ikut ambil bagian dalam proses pengadaan kendaraan oleh Agrinas, khususnya untuk kategori truk enam roda.
Dari hasil pembahasan dan negosiasi yang dilakukan, kedua pihak sepakat pada pengadaan 900 unit Isuzu ELF NMR, yakni truk ringan enam ban yang umum dipakai untuk distribusi dan kebutuhan logistik.
Baca Juga: Strategi Nego ke Prinsipal, Agrinas Klaim Impor Pikap India Hemat Rp 46 Triliun
Sementara itu, Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut dijalankan melalui jaringan diler resmi Isuzu.
Dalam hal ini, PT Armada Autotara sebagai diler Astra yang melakukan kesepakatan langsung dengan Agrinas.
Joao menyebut, jumlah 900 unit tersebut dinilai masih terbatas karena kesepakatan dengan Isuzu terjadi pada tahap akhir proses pengadaan.
Ia menilai, salah satu faktor yang memengaruhi keterbatasan suplai adalah ketersediaan karoseri di dalam negeri yang sudah terikat pesanan dari merek lain.
Menurutnya, sebagian besar karoseri lokal telah penuh dipesan sehingga tidak lagi memiliki kapasitas tambahan untuk memenuhi kebutuhan lebih besar dari Agrinas.
Perbedaan sudut pandang ini kemudian menjadi perhatian.
Pihak Agrinas menilai keterbatasan unit sebagai dampak dari kondisi karoseri yang telah penuh pesanan, sementara Isuzu melihat tantangan lebih pada aspek perencanaan produksi dan kebutuhan waktu pengerjaan yang lebih panjang.