Perlukah Motor Dikenakan Sistem Ganjil-Genap? Ini Kata Pengamat Transportasi

M. Adam Samudra - Kamis, 25 Oktober 2018 | 18:00 WIB

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno (M. Adam Samudra - )

GridOto.com - Bagi warga Jakarta, mungkin sering merasakan jalanan Jakarta dirasakan lebih lancar dibanding waktu-waktu sebelumnya. 

Pembatasan kendaraan lewat ganjil-genap pelat nomor kendaraan sejak gelaran Asian Games jadi penyumbang terbesar pengurangan kemacetan di jalanan ibu kota. 

Namun bagimana jika kendaraan roda dua diterapkan kebijakan tersebut, menanggapi hal ini pengamat transportasi Djoko Setijowarno pun angkat bicara.

"Kalau motor cukup dibatasi jalan saja, seperti dulu kan pernah pembatasan motor di Sudirman dan Thamrin itu aja, kalau ganjil-genapnya itu susah sepeda motor dibatasi, dulu itu kan sudah bagus," kata Djoko kepada GridOto.com di Hotel Grand Mercure, Harmoni, Jakarta Pusat, Kamis (25/10/2018).

(BACA JUGA: Polisi Sebut Jika STNK Mati 2 Tahun Bukan Jadi Bodong, Melainkan Hal Ini)

"MA saja dulu bilang melanggar HAM, apanya yang melanggar HAM?" sambungnya.

Ia mengaku, perluasan pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan pelat nomor ganjil dan genap berhasil menurunkan polusi udara di Jakarta.

"Ini kan bukan bicara soal kemacetan, tapi bicara soal kulitas udara dan kurangi kecelakaan, kalau kualitas udara enggak bagus kan berarti bukan melanggar HAM," tutupnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperpanjang kebijakan perluasan ganjil-genap hingga 31 Desember 2018.

(BACA JUGA: Polisi Tembaki Toyota Vios Berisi 4 Orang Begal di Tuban, Baru Berhenti Setelah Nabrak Pohon)

Dalam Peraturan Gubernur 106 Tahun 2018 yang mengatur perpanjangan ini, ganjil-genap tak lagi berlaku sepanjang hari.

Pasal 3 Ayat 2 Pergub itu berbunyi, "Pembatasan lalu lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberlakukan hari Senin sampai dengan Jumat mulai dari pukul 06.00-10.00 dan mulai pukul 16.00-20.00."