TNI Justru Tidak Disarankan Pakai Biodisel B20?

Radityo Kuswihatmo - Jumat, 28 September 2018 | 19:00 WIB

Biodiesel B20 (Radityo Kuswihatmo - )

GridOto.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah berusaha untuk bisa menjalankan implementasi biodiesel 20% (B20).

Namun ada beberapa badan usaha yang masih kesulitan menggunakan B20, misalnya PT Freeport Indonesia, PLN dan TNI.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Djoko Siswanto mengatakan saat ini TNI masih belum mengimplementasikan B20 untuk alat utama sistem senjata (alutsista).

Padahal penggunaan solar untuk TNI saja sudah mencapai 627.000 kiloliter (KL) per tahun.

(BACA JUGA: Tak Hanya Bus dan Truk, Kendaraan Ini Juga Kena Dampak Biodisel B20)

"Jadi ada tiga kan, Freeport, kemudian PLN dan TNI. Untuk TNI, kami sudah dapat angkanya 627.000 KL setahun,"ujar Djoko seperti dikutip GridOto.com dari Kontan.co.id

Dengan jumlah kebutuhan ini, Djoko tidak menyarankan TNI menggunakan B20.

Sebagai solusinya, Djoko menyarankan agar TNI menggunakan Pertamina Dex (pertadex) ketimbang tetap menggunakan solar tanpa campuran biodiesel (B0).

"Saat ini belum (B20) karena masih diujicobakan kapal-kapal perang kan, kapal kapal selam, tank. Ini kami sarankan kalau memang belum bisa, pakai pertadex," kata Djoko.

(BACA JUGA: Flyer Castrol Serang BBM B20. Ini Tanggapan Produsennya?)

Harga Pertamina Dex sendiri lebih mahal dari harga solar, solar bersubsidi saat ini dijual Rp 5.150 per liter sedangkan harga pertadex dijual Rp 10.500 per liter.

Djoko mengaku TNI tidak keberatan untuk menggunakan Pertamina Dex.

Ini lantaran selama ini TNI juga sudah tidak menggunakan solar bersubsidi untuk alutsista.

Pertamina Dex sendiri memiliki kandungan sulfur kurang dari 300 ppm dan juga sudah memenuhi standar Euro 3.